“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kekuatan seorang mukmin ada dalam hatinya dan tidak pada tubuhnya..
Tidakkah kalian melihat bahwasanya ada orang tua yang badannya lemah tetap mampu berpuasa di siang hari dan qiyamul lail pada malam hari, sedangkan seorang pemuda merasa berat (tidak mampu) untuk melakukan hal tersebut..”
“Janganlah engkau yakin dengan banyaknya amalanmu, karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah amalanmu diterima atau tidak.. dan jangan pula engkau merasa aman dari dosa-dosamu karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah dosamu diampuni atau tidak..”
”Jika sampai kepadamu berita tentang tindakan saudaramu yang tidak engkau sukai, maka berusahalah mencari alasan (berbaik sangka) kepadanya semampumu..
Jika engkau tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah pada dirimu sendiri, ”Mungkin saudaraku itu mempunyai alasan yang tidak aku ketahui..”
Orang sengsara adalah orang yang tak pernah menikmati syurga dunia. Didunia ini ada syurga, bagi sesiapa yang tak pernah masuk menikmatinya takkan pernah masuk menikmati syurga akhirat.
Begitulah kira-kira ungkapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah sebagaimana di nukil sang Murid Ibnul Qoyyim.
Sekalipun dalam penjara Qal’ah yang terkenal sadis di negeri Damaskus, ia menyatakan betapa besar rahmat Allah atasnya yang tak dapat ditukar dengan dunia seisinya.
Dari balik jeruji besi ia tersenyum menatap aparat yang memenjarakannya sembari berkata: “apa yang hendak dilakukan musuh-musuhku padaku, syurgaku ada dalam hatiku, ia bersamaku kemana saja kupergi, sekiranya mereka membunuhku kuharap mati dalam keadaan syahid, bila mereka memenjarakanku itula waktu berkhulwat dengan Tuhanku, bila mereka mengasingkanku maka itulah siyahah berpelesir di jalan Tuhanku”
“Maka dipisahkan antara mereka dengan pagar berpintu, bagian dalamnya ada rahmat sementara sisi luarnya penuh adzab”
Syurga yang dimaksud adalah syurga hidup dibawah naungan iman, dalam kenikmatan samudera cinta Arrohman, berkayuh dengan bahtera kerinduan padaNya, dalam sepoi angin yang menggiring layar ma’rifatullah kepada jalan RidhoNya.
Syurga itu adalah perasaan indah merasakan manisnya buah iman dan taat, meski tak berhias mahkota dan gelimang harta, tak berjabatan dan bernasab mulia.
Syurga itu kan membuat kau tenang ketika orang gelisah, membuat kau tentram ketika dunia gundah, senyap berkhulwat dengan Nya dalam keramaian, tak merasa sepi bersamaNya meski dalam pengasingan.
Bila tangisan makhluk tertumpah dalam ratapan dunia yang tak terwujud, ambisi pangkat dan jabatan yang terluput, maka tangisannya tertumpah di atas sajadah-sajadah cinta dan mihrab-mihrab rindu pada Allah sang kekasih.
Duhai Tuhan, betapa kerinduan mencapai maqom itu terkadang menyesakkan dada, menyempitkan qalbu ini. Sampaikan kami yang naif ini pada jenjang itu…
Ditulis oleh, Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى
Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى . PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #1 – bisa di baca di SINI
Apabila ada khotib jum’at melihat ada yang masuk masjid lalu langsung duduk tanpa sholat tahiyat, hendaklah ia memerintahkan orang tsb untuk sholat tahiyat masjid.
Berdasarkan hadits, ⚉ Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Ada seorang laki laki datang sementara Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sedang berkhutbah hari jum’at, lalu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bertanya padanya, “kamu sudah sholat wahai fulan ?” kata dia, “Belum ya Rosulullah”, kata Rosulullah “berdirilah dan sholatlah” (HR. Bukhori dan Muslim)
➡️ Hadits ini menunjukkan bahwa imam boleh menegur seorang makmum yang melakukan kesalahan, seperti melihat makmum yang ngobrol, boleh diingatkan oleh imam, boleh juga mengingatkan orang yang langsung duduk tidak sholat tahiyatul masjid hendaklah imam mengingatkan.
⚉ Dalam riwayat lain (HR Muslim), Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “apabila salah seorang dari kalian datang pada hari jum’at sementara imam sedang berkhutbah hendaklah ia sholat dahulu 2 roka’at dan hendaklah ringankan sholatnya”
➡️ Hadits ini membantah pendapat yang mengatakan bahwa seseorang apabila masuk masjid dalam keadaan imam sedang khutbah jum’at hendaklah ia langsung duduk karena menurut mereka mendengarkan khutbah itu wajib, namun pendapat ini bertolak belakang dengan hadits yang telah kita sebutkan tadi.
⚉ ORANG YANG TERTIMPA NGANTUK YANG BERAT, YANG LEBIH BAGUS IA PINDAH DARI TEMPATNYA
⚉ Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa ia berkata, aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“apabila salah seorang dari kalian ngantuk dimasjid hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya tsb ketempat yang lain” (HR Imam Ahmad, Abu Daud dan dishohihkan oleh Syaikh al Albani)
“hai orang-orang yang beriman apabila dipanggil menuju sholat jum’at maka hendaklah kalian segera pergi menuju dzikir kepada Allah (yaitu sholat), dan tinggalkan jual beli, itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui”
Disini Allah Subhaanahu Wata’ala melarang berjual beli saat kumandangkan sholat jum’at, sehingga terjadi ikhtilaf para ulama apakah jual belinya sah apa tidak. Pendapat yang rojih bahwa jual beli yang dilakukan oleh orang-orang yang wajib sholat jum’at dari kalangan laki laki yang baligh itu tidak sah. Adapun dari anak anak dan wanita itu sah.
⚉ Abu Hurairoh rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “kita ini generasi terakhir namun yang paling duluan nanti pada hari kiamat, walaupun mereka itu (yahudi nashrani) diberikan kitab sebelum kita, kemudian inilah hari (jum’at) yang Allah wajibkan atas mereka namun mereka itu (yahudi dan nashrani) tidak mendapatkan hari ini, lalu Allahpun berikan hidayah kita pada hari ini, maka orang orang yahudi nashrani mengikuti kita, yahudi hari sabtu dan nashrani hari ahad” (HR. Bukhori dan Muslim)
Ini menunjukkan wajibnya sholat jum’at dan ini juga ijma’ seluruh ulama akan wajibnya sholat jum’at.
⚉ Bahkan Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam disini mengancam, “siapa yang meninggalkan sholat jum’at 3x karena menganggapnya remeh, Allah akan stempel mati hatinya” (HR. Imam Ahmad)
⚉ dalam riwayat lain, “ia akan ditulis sebagai orang yang munafik” (HR. ath-Thobroni)
⚉ dalam riwayat lain, “ia telah membuang Islam kebelakang punggungnya” (HR. Abu Ya’la)
.
. Wallahu a’lam 🌻
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
. Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
. ARTIKEL TERKAIT Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
. WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah
Suatu hari Syeikh Jamaluddin Alqasimi-salah seorang ulama Syam-melewati kedai kopi menyaksikan orang-orang yang membuang-buang waktu duduk bermain catur dan berbual-bual tanpa makna, maka ia berkata: “Aduhai.. sekiranya waktu mereka bisa kubeli niscaya kan kubeli untuk menambah waktuku”
Dalam kitabnya Shoidul khatir, Ibnul Jauzi pernah menyebutkan keprihatinannya yang dalam terhadap orang-orang yang membuang-buang masanya dipinggir-pinggir jalan, maupun ditepian sungai Tigris dan Eufrat berbual-bual menghabiskan umur, beliau menyebutkan bagaimana guru beliau Abul wafa Ibn Aqil alhambali yang begitu menghargai waktunya.
Ia berkata tentang gurunya: “kudapati dalam catatan guruku ia menulis, tidak halal bagiku menyia-nyiakan waktuku walau sesaat. Bilamana lisanku sudah kelu untuk mengulangi hafalan ataupun berdiskusi tentang ilmu, mataku tak mampu lagi untuk membaca, maka aku akan gunakan akalku untuk berfikir di atas pembaringanku, hingga akhirnya aku takkan bangun dipagi hari kecuali telah ada bahan untuk kutuliskan sebagai buah fikirku tadi malam untuk menjadi buku yang bermanfaat”
⚉ WAKTU ITU ADALAH KEHIDUPAN
Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa waktu itu adalah kehidupan.. yang tak menggunakan waktu untuk kebaikan hakikatnya tidak pernah hidup kecuali sebagaimana hidupnya binatang.
Seorang muslim sadar waktunya didunia begitu terbatas dan begitu berharga untuk menjadi jembatan kehidupan yang hakiki dan abadi di negeri akhirat.
Seorang mukmin senantiasa akan menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi-Nya sebagai panduan yang mengingatkannya selalu tentang mahalnya harga waktu.
Bila anda perhatikan dengan cermat, alangkah banyaknya ayat yang menyebutkan Allah bersumpah dengan waktu. Lihat saja dalam juz Amma, bertebaran sumpah Allah dengan waktu secara umum maupun penggalan-penggalan waktu. Ia berfirman:
والضحى والليل إذا سجى
“Demi waktu dhuha (manakala mentari naik sepenggalah) Demi malam bila telah sunyi dan gelap
والشمس وضحاها، والقمر إذا تلاها والنهار إذا جلاها والليل إذا يغشاها
“Demi matahari dan cahayanya dikala dhuha Demi bulan yang datang menggantikannya Demi siang manakala Dia Tampakkan”
والليل إذا عسعس والصبح إذا تنفس
“Demi malam apabila akan meninggalkan gelapnya Demi shubuh apabila fajarnya telah menyingsing”
والعصر
“Demi masa”
Allah, bilamana bersumpah dengan makhluknya, hakikatnya sedang menunjukkan pada kita betapa agung dan pentingnya makhluk tersebut, karena penggalan-penggalan waktu tersebut sejatinya adalah modal besar bagi manusia untuk beramal dan berbekal demi keberuntungan negeri akhiratnya.
⚉ KEBANYAKAN MANUSIA MENYIA-NYIAKAN WAKTU
Namun sayangnya kebanyakan manusia lalai menyia-nyiakan waktunya lewat tanpa makna. Itulah kelak yang paling disesali manusia bila ajal datang menjemput. Allah berfirman:
“Tatkala datang pada salah seorang mereka kematian, barulah ia menyesal dan berkata: “Tuhan kembalikanlah aku hidup semoga aku dapat beramal sholeh yang dahulu kutinggalkan”, sekali-kali tidak, sesungguhnya itu hanyalah ungkapan penyesalan yang tak berguna, sementara di belakang mereka ada dinding pembatas untuk kembali ke dunia hingga datangnya hari mereka dibangkitkan.” (Al Mu’minuun : 99-100)
Kebanyakan manusia lalai dalam gelimang kenikmatan dunia dari memahami untuk misi apa mereka diciptakan.
Kebanyakan mereka menghiasi hidup sekedar untuk bersenang-senang, makan minum tak ubahnya binatang yang hidup hanya untuk makan, minum, dan melampiaskan syahwat.
Mengejar ambisi dunia dengan angan-angan panjang tak berkesudahan hingga akhirnya kematian menyudahi mimpi-mimpi dunianya.
“Biarkan mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan dengan angan-angan yang panjang, kelak mereka akan tau akibatnya.” (Al Hajr : 3)
Saudaraku, jangan pernah lewatkan waktumu untuk hal-hal yang tak berguna, habis di depan android dan handphone pintarmu, tenggelam dalam samudera maksiat memandang yang haram, terlena dengan berbagai ragam medsos dan game-game yang membunuh waktumu.
Terakhir ingatlah ungkapan Imam Syafii rahimahullah: “aku pernah berteman dengan orang-orang sufi dan tak kutemukan dari mereka apa yang berharga selain ucapan hikmah mereka yang berbunyi:
الوقت كالسيف فإن لم تقطعه قطعك
“Waktu itu ibarat pedang, bilamana kau tak mampu memotong dengannya (menggunakannya ) niscaya ia akan memotongmu”.
Ditulis oleh, Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى
Dzun Nuun al-Misri rohimahullah menyebutkan tiga ciri tanda seorang manusia memiliki sifat ikhlas,
1️⃣ tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain, 2️⃣ melupakan amal kebaikan yang dulu pernah dibuat, 3️⃣ mengharap balasan dari amalan di akherat (dan bukan di dunia)
Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Pemakaian Kata Kufur Dalam Alqur’an dan Hadits) bisa di baca di SINI
=======
. 🌿 Ungkapan Kufur Dalam Lafazh-Lafazh Syari’at🌿
Kita lanjutkan.. kemudian Beliau membahas tentang..
⚉ UNGKAPAN-UNGKAPAN KUFUR DALAM LAFAZH-LAFZH SYARI’AT
Kata Beliau, “dalam nash-nash syari’at, ada beberapa ungkapan untuk mengungkapkan lafazh kufur”
Yang menunjukan kepada makna kufur dan hakikatnya syari’at yaitu, 1⃣ Syirik 2⃣ Zholim 3️⃣ Fasik
Atas dasar itu bahwa kufur, zholim, fasik ada dua macam, Kufur besar, zholim besar, fasik besar dan kufur kecil, zholim kecil, dan fasik kecil.
Berkata Muhammad bin Nashr Al Marwazi,
فكما كان الظلم ظلمين ، ولفسوق فسقين ، كذلك الكفر كفران : أحدهما يخرج من الملة ، والآخر لا ينقل، فكذلك الشرك شر كان : شرك في التو حيد ينقل من الملة ، وشرك في العمل ، لا ينقل عن الملة ، وهو الرياء
Sebagaimana mana zholim itu ada dua, fasik juga ada dua, demikian kufur ada dua, 1⃣ yang mengeluarkan dari Islam, yaitu kufur besar 2⃣ yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam yaitu kufur kecil.
Demikian pula syirik ada dua: 1⃣ Syirik dalam tauhid, yang bisa mengeluarkan dari Islam 2⃣ syirik dalam amal yang tidak mengeluarkan dari Islam, yaitu riya’ (demikian dalam kitab Ta’zhim Qodrisholah hal 343)
➡️ Adapun penyebutan kufur dengan lafazh syirik,
⚉ itu dalam beberapa ayat diantaranya, Allah Ta’ala berfirman: [QS Al-Kahfi : 42]
Dalam ayat itu disebutkan dia berkata, “Andaikan aku tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga”
Kata Syaikh Ibrahim, disini Allah mengungkapkan kata kufur dengan syirik, Karena perbuatan orang tersebut adalah kufur terhadap nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
⚉ Demikian pula dalam Hadits disebutkan, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
بين الرجل وبين الشر ك والكفر تر ك الصلاة
“Batasan antara seseorang, dan antara syirik dan kekafiran yaitu meninggalkan sholat “
Disini Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mengungkapkan kata syirik dengan makna kufur.
➡️ Adapun pengungkapan kufur dengan lafazh zholim,
“Ingatlah ketika kami berkata kepada para malaikat, sujudlah kepada Adam, maka merekapun sujud kecuali iblis. Ia termasuk kalangan jin, lalu iapun fasik dari perintah Robb-Nya”.. maksudnya yaitu kafir
“Adapun orang-orang fasik, maka tempat mereka dalam api neraka”.. maksudnya Kafir.
Ini menunjukan bahwa kata kufur, ⚉ terkadang di ungkapkan dengan lafazh zholim, ⚉ terkadang dengan lafazh syirik, ⚉ terkadang dengan lafazh fasik
.
. Wallahu a’lam 🌼 . Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
“Waktu adalah sesuatu yang paling berharga, tapi dia sekarang ini menjadi sesuatu yang paling murah di tengah-tengah kita.
Kita biasa melewati waktu demi waktu tanpa ada faedah apapun, bahkan kita biasa menghabiskan waktu demi waktu dalam perkara yang mendatangkan mudhorot.
Dan aku tidak sedang membicarakan satu orang saja, tapi aku sedang membicarakan kaum muslimin secara umum. Sekarang ini -sangat disayangkan sekali- mereka dalam keadaan lengah, terlena, dan lupa.
Mereka tidak bersungguh-sungguh dalam perkara agama mereka. Kebanyakan mereka dalam keadaan lengah dan bermewah-mewahan. Yang mereka lihat adalah apa yang bisa memanjakan badan mereka, walaupun harus merusak agama mereka.”
[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin, 1/345].
———
Untukmu wahai saudaraku yang sedang membaca pesan ini… bila keadaan di atas menimpamu, maka cepatlah berubah, sebelum semuanya tinggal kenangan dan penyesalan… Ingatlah selalu firman Allah ta’ala (yang artinya):
“… hingga ketika KEMATIAN mendatangi salah seorang dari mereka, dia mengatakan: ‘Ya Robb, kembalikan aku (ke dunia lagi), sehingga aku bisa beramal shaleh pada apa yang dulu kutinggalkan’
Tentu itu tidak mungkin, tapi sungguh kalimat itu akan dia katakan”. [QS. Almukminun: 99-100].
Ditulis oleh, Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
قال ابن القيم رحمه الله : . لا تحسب أن نفسك هي التي ساقتك إلى فعل الخيرات ، بل إنك عبد أحبك الله فلا تفرط في هذه المحبة فينساك . – عدة الصابرين
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
“Janganlah kamu mengira bahwa dirimulah yang membuat kamu beramal kebaikan.. tetapi sesungguhnya kamu hanyalah seorang hamba yang sedang Allah cintai.. maka jangan sia-siakan cinta ini supaya Allah tidak melupakanmu..”