Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
FUTUR : yaitu rasa malas, enggan, lamban dan tidak semangat, padahal sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat dalam menjalankan suatu ibadah. Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i dan penuntut ilmu.
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
” كيف أنتم إذا لبستكم فتنة يهرم فيها الكبير ، ويربو فيها الصغير ، ويتخذها الناس سنة فإذا غيرت قالوا : غيرت السنة ؟ قيل : متى ذلك يا أبا عبد الرحمن ؟ قال : إذا كثرت قراؤكم ، وقلت فقهاؤكم ، وكثرت أموالكم ، وقلت أمناؤكم ، والتمست الدنيا بعمل الآخرة .
“Bagaimana jika fitnah telah menerpa kalian. Seseorang menjadi tua di atas fitnah. Anak kecil tumbuh besar di atas fitnah. Hingga orang orang menganggap fitnah tersebut sebagai sunnah. Bila ada fitnah yang dirubah orang-orang menyangka ada sunnah yang telah dirubah ?”
Mereka bertanya, “Kapan itu terjadi wahai Abu Abdirrohman ?“ Beliau menjawab, “Apabila qori-qori telah banyak, tapi ulamanya sedikit. Harta melimpah dan yang amanah sedikit. Dan dunia dicari melalui amalan akherat.”
(Diriwayatkan oleh Addarimi dengan sanad yang shahih dan AlHakim dalam mustadroknya no 8617)
Fitnah yang dimaksud disini adalah perkara yang menyimpang seperti syirik, bid’ah dan maksiat.
Bila seseorang tumbuh besar di atas penyimpangan maka ia akan menganggap bahwa itu sesuatu yang sunnah.. Saat ada orang yang mengingkarinya, justeru ia dianggap aneh..
نحن ندعو الإله في كل كرب ثم ننساه عند كشف الكروب كيف نرجو إجابة لدعاء
قد سددنا طريقها بالذنوب
Kita berdo’a kepada Allah saat musibah menerpa.. Kemudian lupa kepada-Nya saat musibah telah pergi.. Bagaimana berharap do’a kita diijabah.. Sementara jalannya telah kita tutup dengan dosa..
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
👉🏼 Ganti rugi (dhoman) hendaknya dengan yang sama. Bila tidak mungkin maka dengan yang seharga.
Dalil kaidah ini adalah hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
أهدت بعض أزواج النبي صلى الله عليه وسلم إلى النبي صلى الله عليه وسلم طعاما في قصعة فضربت عائشة القصعة بيدها فألقت ما فيها فقال النبي صلى الله عليه وسلم طعام بطعام وإناء بإناء
“Sebagian istri Nabi menghadiahkan satu nampan makanan. Lalu A’isyah cemburu dan memukul nampan tersebut sehingga makanan yang ada padanya tumpah. Nabi bersabda: Makanan diganti dengan makanan, dan bejana diganti dengan bejana (yang sama).” (HR At Tirmidzi).
⚉ Misalnya bila kita menghilangkan satu sho kurma yang bagus, maka kita ganti dengan yang sama.
Sebagian ulama berpendapat bahwa barang yang wajib diganti dengan yang sama itu adalah apabila ditakar atau ditimbang dan cocok untuk “jual beli salam”(*). Namun pendapat ini lemah bertabrakan dengan hadits di atas.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-53) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 54 🌼
Alhamdulillah… ini adalah pembahasan terakhir dari “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, in-syaa Allah Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى akan melanjutkan dengan pembahasan kitab baru.
🌼 Kaidah yang ke 54 🌼
⚉ Ahlussunnah meyakini apa yang ditunjukan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [QS Hud : 116]
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.“
“Kalaulah Rabb-mu berkehendak, Allah akan jadikan mereka satu ummat (atau satupadu), namun mereka senantiasa berselisih kecuali yang dirahmati oleh Rabb-mu.”
👉🏼 Dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwasanya persatuan itu adalah rahmat sedangkan perpecahan itu adalah azab, dan Allah memerintahkan kita untuk bersatu-padu di atas kebenaran.
“Diantara manusia yang kami ciptakan ada suatu ummat yang memberikan hidayah dengan kebenaran dan dengan kebenaran itu mereka bersikap adil.“
Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam mengabarkan bahwa ummat Islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan siapa mereka, yaitu “…orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku di hari ini…” Artinya, siapa yang seperti aku (Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam) dan para sahabatku di hari ini maka dialah yang selamat.
👉🏼 Berarti keselamatan itu adalah dengan cara mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata, “…apabila kebahagiaan dunia dan akhirat dengan cara mengikuti para Rasul berarti orang yang paling berhak terhadap para Rasul adalah yang paling tahu tentang atsar-atsar jejak-jejak para Rasul dan yang paling mengikuti mereka, maka orang-orang yang berilmu yang senantiasa mengikuti jejak kaki para Rasul, merekalah orang-orang yang diberikan oleh Allah kebahagiaan di setiap zaman dan tempat merekalah “Thoifah Najiyah” (kelompok yang selamat), merekalah Ahlussunnah wal Hadits dari ummat Islam ini…“
Ibnu Taimiyyah rohimahullah juga berkata (dalam Majmu Fatawa di jilid 4 halaman 26), “…Ahli Hadits dan Ahlussunnah adalah orang yang paling tahu tentang sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan keadaan-keadaannya, mereka paling bisa membedakan shohih dan dho’if. Imam-imam mereka adalah orang-orang yang faqih, yang betul-betul memahami Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, dan betul-betul mengikutinya. Dengan pembenaran, dengan amalan, dengan kecintaan, loyalitas dan permusuhan semuanya karena iman diatasnya. Yang mereka membantah pendapat-pendapat yang bathil dan mengembalikan dalil-dalil yang bersifat global kepada Alqur’an dan hikmah, sehingga mereka tidak pernah menegakkan suatu ucapan siapapun sebagai pokok-pokok agama mereka APABILA ternyata tidak sesuai dengan atau tidak “tsabit” dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam…“
“…Bahkan mereka hanya menjadikan apa yang di bawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berupa Alqur’an dan Hadits sebagai pokok yang menjadi sandaran mereka…” (Majmu Fatawa jilid 4 halaman 347)
Beliau juga berkata, “…oleh karena itulah orang-orang mu’tazilah, murji’ah dan yang lainnya dari kalangan ahli bid’ah menafsirkan Alqur’an dengan ro’yu, ro’yu dengan akal mereka sendiri. Oleh karena itu kamu dapati mereka tidak menjadikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, atsar sahabat dan tabi’in sebagai pegangan mereka. Mereka tidak bersandar kepada sunnah, tidak pula kepada ijma’ salafush-sholeh dan atsar mereka, akan tetapi sandaran mereka adalah akal, dan bahasa arab yang mereka takwil-takwil. Sandaran mereka juga adalah hawa nafsu sehingga pada waktu itu mereka menjadi orang-orang yang tersesat jalannya…“
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/