Simak penjelasan Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Simak penjelasan Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Simak penjelasan Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-25) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 26 🌼
👉🏼 Karena dua perkara ini adalah perkara yang bisa menghancurkan kemudian merusak syari’at Islam.
Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali khotbah Jum’at, beliau selalu berkata:
“Sebaik-baiknya ucapan adalah ucapan Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan seburuk-buruknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.” (dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya).
Bayangkan Nabi dalam khotbahnya selalu mengingatkan masalah bid’ah, ini menunjukkan kebid’ahan/bid’ah itu memang sangat bahaya sekali.
Bid’ah itu bisa merusak kesempurnaan Islam.
👉🏼 Bid’ah itu menyebabkan akhirnya di masukkan kedalam Islam sesuatu yang bukan agama, sehingga akhirnya seseorang yang tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.
Demikian pula mereka mewanti-wanti agar jangan berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.
👉🏼 Karena berkata tanpa ilmu ini sebab utama muncul berbagai macam pemikiran-pemikiran yang menyimpang, munculnya bid’ah, munculnya kesyirikan, munculnya penyimpangan adalah merupakan disebabkan adalah berkata atas Allah tanpa ilmu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan [QS Al-A’raf : 33]
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Katakanlah sesungguhnya Rabku mengharamkan perbuatan fahisya (maksiat) yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, dan berbuat zolim tanpa haq dan kamu mempersekutukan Allah dalam perkara yang tidak di turunkan padanya perkara ilmuNya.”
Kemudian Allah menutup ayat itu dengan firmannya
وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan kamu berkata atas Allah dengan tanpa ilmu“
Maka ini menunjukkan bahwa berkata tanpa ilmu itu merupakan itu adalah merupakan keharaman yang paling besar/ yang paling agung.
Sampai-sampai Allah menutup ayat tersebut dengan berkata tanpa ilmu .
Oleh karena itu ya Akhul Islam, Saudara-saudaraku sekalian kita berusaha dalam berbicara masalah agama ini betul-betul diatas ilmu, diatas dalil, diatas hujjah bukan sebatas ro’yu dan pendapat semata.
Karena agama ini yang berasal dari Allah dan itu adanya dari Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun pendapat-pendapat ulama bukanlah dalil dan hujjah.
👉🏼 Hujjah itu Alqur’an dan Hadits.
Ulama itu hanya sebatas wasilah untuk memahami Alqur’an dan Hadits, bukan untuk menolak Alqur’an dan Hadits.
Maka dari itulah zaman sekarang, kita melihat banyak orang-orang yang mudah berbicara tanpa ilmu, sebatas dengan ro’yu-ro’yunya saja.
Allahul musta’an
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj
Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN
Simak penjelasan dalam 4 Sesi singkat oleh Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
SESI 1 (audio di bawah) : Latar Belakang Pengumpulan dan Penulisan Ulang Di Zaman ‘Uthman bin ‘Affan Rodhiyallahu ‘anhu 👇👇👇
SESI 2 (audio di bawah) : Siapa Nama Sahabat Yang Ditugaskan Dalam Proses Penulisan Ulang 👇👇👇
SESI 3 (audio di bawah) : Metode Yang Diterapkan Dalam Penulisan Ulang 👇👇👇
SESI 4 (audio di bawah) : Perbedaan Latar Belakang Pengumpulan dan Penulisan Ulang Di Zaman Abu Bakar dan ‘Uthman bin ‘Affan rodhiyallahu ‘anhumaa 👇👇👇
.
.
Dari Kisah Sahabat ‘Uthman bin ‘Affan rodhiyallahu ‘anhu yang disampaikan di TV Rodja.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-24) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 25 🌼
Penjelasan tentang sebagian sebab-sebab kebatilan itu laris di tengah masyarakat.
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan ada sekitar 5 sebab, kenapa kebatilan itu bisa laris di tengah masyarakat._
Kita akan bahas satu persatu…
Kata beliau:
👉🏼 SEBAB yang pertama :
Yaitu pelakunya yang ingin melariskan kebatilan itu datang membawa kata-kata yang indah, di berikan pakaian, kefasihan dan ungkapan-ungkapan yang mengasyikkan.
Maka orang-orang yang mempunyai akal yang lemah, pengetahuan yang dangkal itu segera menerimanya dan menganggapnya baik.
Bahkan orang-orang yang seperti ini akan segera meyakininya dan mengikutinya.
Karena ucapannya yang begitu indah.
Seperti di zaman sekarang kita lihat banyak mereka yang melariskan kebatilan itu berceramah dengan gaya yang sangat menarik, retorika, cara yang menawan, kata-kata yang lembut.
Sehingga orang-orang yang lemah pemikirannya sangat mudah sekali untuk menerimanya.
Ini di isyaratkan dalam firman Allah [QS Al-An ‘am : 112]
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ
“Demikian kami jadikan untuk setiap Nabi itu berupa syaitan-syaitan manusia dan jin, sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lainnya ucapan yang dihiasi dengan tipuan“
ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ
“Kalaulah Allah atau Rabb-mu berkehendak, tentu mereka tidak akan melakukannya.”
فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan itu“
Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa musuh-musuh para nabi itu menggunakan kata-kata yang di indah-indahkan, sehingga akhirnya tertipulah orang-orang yang lemah keilmuannya, lemah akalnya.
👉🏼 SEBAB yang ke 2 :
Yaitu dia mengeluarkan makna yang ingin ia batalkan, artinya kebenaran itu di gambarkan dengan gambaran yang buruk, membuat manusia lari darinya.
Dimana ia berusaha untuk memilih lafadz-lafadz untuk membatilkan kebenaran itu dengan lafadz-lafadz yang paling tidak disukai oleh hati.
Sehingga akhirnya orang yang mendengarnya menganggap bahwa makna ayat atau makna hadits itu atau makna ucapan itu ternyata begitu padahal tidak demikian.
Demikianlah ahli bid’ah dan kesesatan di zaman sekarang mereka menamai Ahlus Sunnah dengan mujassimah, hasawiyah dan yang lainnya.
Mereka berusaha supaya manusia lari dari Ahlus Sunnah seperti halnya di zaman sekarang orang yang mengatakan Allah berada diatas Arsy, dianggap mujassimah.
Katanya dia menyamakan Allah dengan hambaNya.
Padahal hakikatnya ketika kita mengatakan Allah bersemayam di atas Arsy, tidak sama dengan hamba-hambaNya, justru mereka yang menolak.
Yaitu hakikatnya menyamakan dengan mahluknya.
Tapi itulah mereka gunakan dengan kata-kata yang membuat manusia itu lari.
👉🏼 SEBAB yang ke 3 :
Orang ahli bid’ah itu menisbatkan ta’wil dan kebid’ahan kepada orang yang tinggi kedudukannya.
Seperti ahlul bait misalnya atau ulama Misalnya:
Karena dengan seperti itu akan diterima oleh orang banyak.
Seperti orang yang menolak adanya Allah bersemayam diatas Arsy, menisbatkan bahwa itu ucapan keyakinan Imam Syafi’i rahimahullah.
Namun mereka sendiri tidak mampu untuk membawakan sanad kepada Imam Syafi’i rahimahullah.
Kenapa..?
Supaya di terima bahwa ini ada ucapan Ulama, apalagi ulama besar Imam Syafi’i rahimahullah, walau dengan tanpa sanad sekalipun. Mereka berusha berbagai macam cara supaya keyakinan mereka tersebut diterima.
👉🏼 SEBAB yang ke 4 :
Yaitu takwil atau kebid’ahan mereka itu diterima oleh orang-orang yang terkenal dalam suatu ilmu/pekerjaan yang sifatnya duniawiyah.
Misalnya:
dia terkenal sebagai profesor yang cerdik, cendikiawan atau terkenal sebagai seorang dokter atau seorang ilmuwan yang berhubungan dengan masalah pertanian atau yang lainnya.
Supaya bisa diterima oleh orang-orang awam.
Sehinnga pada waktu itu mereka bisa melariskan kebatilan mereka dengan cara menisbatkan ucapan tersebut atau diterima oleh salah satu daripada orang-orang yang terkenal tersebut, tanpa melihat apa dia memang seorang ulama yang betul-betul berilmu ataukah dia ahli ilmu dunia saja yang penting terkenal dan diterima oleh masyarakat.
Halnya seperti di zaman kita, orang yang sangat terkenal itu sangat diketahui oleh masyarakat ketika menerima pendapat tersebut untuk di lariskan kepada masyarakat agar di terima untuk orang-orang awam yang lemah keilmuannya atau di zaman sekarang dengan cara di boomingkan seseorang, yang tentunya ilmunya sebetulnya bukan ilmu yang kuat, tapi sengaja boomingkan karena pendapat-pendapatnya itu menjadi subhat bagi orang-orang awam yang kurang faham apa dan bagaimana memahami dien dan dalil.
👉🏼 SEBAB yang ke 5 :
Yaitu menjadikan aneh bagi jiwa, bagi orang yang tidak mengenal makna-makna yang aneh.
Karena jiwa kita ini suka mencari yang aneh-aneh, biasanya langsung terkenal.
Maka dengan cara seperti ini mereka berusaha melariskan kebatilan, menggunakan cara seperti itu.
👉🏼 SEBAB yang ke 6 :
Memberikan mukadimah sebelum ia mentakwil, sebelum ia melariskan kebatilannya, dia menggunakan mukadimah-mukadimah akal yang bagaimana caranya supaya diterima.
Contoh misalnya :
kalau merekan memberikan, kalau Alqur’an dan Hadits bertabrakan dengan akal, maka akal didahulukan daripada dalil.
Atau mereka berkata Alqur’an atau Hadits itu masih mentah. Sedangkan pendapat ulama sudah matang. Maka lebih baik kita merujuk pendapat ulama tanpa melihat dalil.
Dan kebatilan-kebatilan yang lainnya yang merupakan mukadimah-mukadimah yang tujuannya ingin melariskan kebatilan mereka.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj
Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Dari kitab yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Kaidah Ke 1
Kaidah Ke 2
Kaidah Ke 3
Kaidah Ke 4
Kaidah Ke 5
Kaidah Ke 6
Kaidah Ke 7
Kaidah Ke 8
Kaidah Ke 9
Kaidah Ke 10
Kaidah Ke 11
Kaidah Ke 12
Kaidah Ke 13
Kaidah Ke 14
Kaidah Ke 15
Kaidah Ke 16
Kaidah Ke 17
Kaidah Ke 18
Kaidah Ke 19
Kaidah Ke 20
Kaidah Ke 21
Kaidah Ke 22
Kaidah Ke 23
Kaidah Ke 24
Kaidah Ke 25
Kaidah Ke 26
Kaidah Ke 27
Kaidah Ke 28
Kaidah Ke 29
Kaidah Ke 30
Kaidah Ke 31
Kaidah Ke 32
Kaidah Ke 33
Kaidah Ke 34
Kaidah Ke 35 dan ke 36
Kaidah Ke 37
Kaidah Ke 38
Kaidah Ke 39
Kaidah Ke 40
Kaidah Ke 41
Kaidah Ke 42
Kaidah Ke 43
Kaidah Ke 44 dan ke 45
Kaidah Ke 46
Kaidah Ke 47
Kaidah Ke 48
Kaidah Ke 49
Kaidah Ke 50
Kaidah Ke 51
Kaidah Ke 52
Kaidah Ke 53
Kaidah Ke 54
=== selesai ===