Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
⚉ Bahwa ahlu bid’ah aksaam orang-orang jatuh pada ke bid’ahan atau kesalahan yang lain itu dibagi beberapa macam sbb ;
1. Dikatakan oleh Ibnu Qoyim yaitu orang jahil yang hanya bisa taklik tidak punya ilmu sama sekali, maka tidak boleh dikafirkan, tidak boleh dianggap fasik tidak boleh ditolak persaksiannya. Apabila ia tidak mampu untuk mempelajari ilmu maka dihukumi orang-orang yang lemah dari kalangan laki-laki, wanita dan anak-anak.
2. Orang yang punya kemampuan untuk bertanya untuk mencari hidayah, ilmu dan untuk mengetahui kebenaran tapi ia tinggalkan itu semua karena sibuk akan dunia, kedudukan dan kelezatan kehidupannya. Maka orang ini meremehkan menuntut ilmu ia berhak mendapatkan ancaman dan ia berdosa karena meninggalkan apa yang Allah wajibkan dari bertakwa kepada Allah sesuai kemampuannya. Ini dihukumi orang yang meninggalkan kewajiban kalau sekiranya kebid’ahan, hawa nafsunya lebih menang daripada sunah dan hidayahnya maka persaksiannya ditolak.
3. Dia bertanya, mencari dan sudah jelas baginya petunjuk tapi ditinggalkan karena lebih fanatik kepada ustadznya, kelompoknya, benci kepada lawannya karena membawa kebenaran maka orang ini rendah derajatnya fasik adapun mengkafirkannya diperlukan ijtihad dan perincian kalau ia terang terangan berdakwah dan mendakwah kepada kebid’ahannya itu maka ditolak persaksiannya, fatwanya dan hukum hukumnya.
Inilah macam macam orang yang jatuh pada kebid’ahan maka keadaannya seperti yang kita lihat, jika seorang jatuh kepada kebid’ahan dan mampu untuk mencari hidayah, dia punya kecerdasan tapi dia tidak mau karena sibuk dengan dunianya maka ini orang yang berdosa karena meninggalkan apa yang diwajibkan Allah padanya.
Atau ia mampu tapi fanatik dengan ustadnya karena mengidolakan seperti ustadz ustadz yang mashur di youtube akhirnya ia tidak mau mencari hidayah bahkan mencukupkan diri dengannya bahkan fanatik buta maka orang yang seperti ini yang melakukan perbuatan jahiliyah fanatik kepada si fulan si fulan padahal kewajiban kita hanya fanatik kepada Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
“Dan diantara manusia yang kami ciptakan adalah ummat yang memberikan hidayah dengan kebenaran dan dengannya juga mereka bersikap adil.“
Artinya, seakan Beliau (Syaikh Al Ubailaan) mengisyaratkan bahwa mentahzir, memperingatkan manusia dari bahaya kesesatan pemimpin-pemimpin kebid’ahan itu termasuk memberikan hidayah kepada kebenaran, namun tentunya dengan sikap adil, bukan dengan sikap yang berlebihan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga dalam Alqur’an mentahzir,memperingatkan akan orang-orang yang menyesatkan. Allah berfirman, contohnya dalam QS At Taubah : 34
“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya banyak dari para pendeta dan rahib-rahib yang makan harta manusia dengan kebathilan dan menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala“
Disini Allah memperingatkan bahwa kebanyakan para pendeta dan para rahib-rahib Yahudi dan Nasrani itu, mereka suka memakan harta manusia dengan bathil. Disini Allah memperingatkan agar kita ummat Islam tidak mencontoh mereka, dan agar kita tidak menjadi orang-orang yang memakan harta manusia dengan bathil.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Seperti para pemimpin kebid’ahan dari orang-orang yang menyelisihi Alqur’an dan Sunnah atau orang-orang yang membuat ibadah-ibadah yang menyelisihi Alqur’an dan Sunnah.” 👉🏼 Maka menjelaskan keadaan mereka dan mentahzir ummat dari mereka itu wajib, dengan kesepakatan kaum Muslimin.
Sampai-sampai dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal, “…bagaimana orang yang berpuasa dan sholat dan ber’itikaf. Apakah itu lebihkah engkau cintai ? Atau engkau berbicara tentang para ahli bid’ah ?…” Kata Imam Ahmad, “…apabila ia berpuasa, ia sholat, ‘itikaf itu untuk dirinya. Dan apabila ia berbicara tentang ahli bid’ah maka itu untuk kebaikan kaum muslimin lebih utama..” kata Imam Ahmad bin Hambal.
Maka disini beliau menjelaskan bahwa manfaatnya untuk kaum muslimin besar.
👉🏼 Namun tentunya yang perlu di perhatikan dalam masalah ini juga dalam masalah tahzir mentahzir hendaknya: 1. Orang yang mentahzir itu ikhlas karena Allah bukan karena mengharapkan kemasyuran atau karena takut di tahzir orang. 2. Hendaknya dia melihat maslahat dan mudhorot.
👉🏼 Di zaman sekarang seperti di negri kita ini, ketika kita mentahzir seseorang, akhirnya orang itu malah masyur di kalangan manusia. Akhirnya malah banyak orang yang mengikuti dia. Maka kalau ternyata hal seperti ini, keadaanya seperti itu, maka tidak di syari’atkan… kenapa? Karena ternyata mudhorotnya jauh lebih besar, maka kita sebatas membantah pendapat-pendapatnya secara ilmiah, itu tidak mengapa.
👉🏼 Atau kita menyebutkan nama dia sambil kita mengkritik pendapat-pendapatnya yang nyeleneh dengan secara ilmiah, itupun silakan, kalau memang maslahatnya jauh lebih besar.
👉🏼 Demikian pula kewajiban kita adalah niatnya untuk menasehati Ummat. 👉🏼 Kemudian kita juga berusaha untuk mendo’akan agar orang yang di tahzir ini mendapatkan hidayah.
👉🏼 Dan kemudian, jangan serampangan dalam mentahzir, karena berapa banyak di zaman ini serampangan dan sangat mudah. Hanya karena kesalahan-kesalahan yang sifatnya ijtihadiyah, yang ia pandang rojih, lalu ia tahzir orang lain. Padahal itu masalah-masalah yang sifatnya ijtihadiyah. Seperti menghukumi suatu yayasan apakah itu hizbi atau tidak. Itu sifatnya ijtihadi yang tentunya kita tidak boleh, gara-gara itu kemudian kita berpecah belah. Seperti yang terjadi di zaman sekarang, serampangan dalam tahzir mentahzir.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
⚉ Mereka meyakini bahwa bermuamalah atau menghadapi kejadian-kejadian yang berubah-rubah masalah yang pasti tentunya akan berubah-rubah sesuai kondisi dan tempat, itu harus di bangun diatas pemahaman yang benar terhadap dalil-dalil syari’at dan pengetahuan yang luas tentang sunnah-sunnah Allah kepada mahluk-mahluknya.
“kalaulah mereka mengembalikan urusan tersebut kepada Rasul dan kepada Ulil Amri yaitu para Ulama diantara mereka akan tahulah orang-orang yang bisa beristimbath diantara mereka.”
Disinilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh untuk mengembalikan segala urusan itu kepada Rasul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah meninggal maka kepada Ulil Amri.
Ulil Amri yang di maksud disini adalah para Ulama yang mampu beristimbah (pengambilan hukum) dan memahami dengan pemahaman yang benar dari Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
👉🏼 Maka kewajiban kita, masalah-masalah yang berhubungan dengan berita-berita atau masalah-masalah yang berubah sesuai dengan situasi dan kondisi itu tidak di serahkan kepada orang-orang yang dangkal pemahamannya, tidak diserahkan kepada orang-orang yang kurang pemahamannya terhadap Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akan tetapi diserahkan dan di tanyakan kepada mereka yang betul-betul sangat memahami Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menguasai ilmu-ilmu alat untuk beristimbath atau berijtihad.
Maka ikhwatul Islam, saudara-saudaraku sekalian berkata Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimalllah, ketika menafsirkan firman Allah [QS Al Maidah: 105]:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian memelihara diri kalian sendiri“
لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ
“tidak akan membahayakan kalian orang yang tersesat apabila kalian telah mendapat hidayah“
Berkata Syaikhul Islam: “Hendaklah kalian memelihara diri kalian sendiri tidak membahayakan kalian orang yang sesat apabila kalian mendapatkan hidayah”.
Tidak menunjukkan kita meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar , sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang masyhur daru Abu Bakar ash-Siddiq, bahwa beliau berkhotbah di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Hai manusia, kalian membaca ayat ini dan meletakkan bukan pada tempatnya dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran lalu mereka tidak merubahnya, hampir-hampir Allah ratakan azab untuk mereka semua”
Maka disini Abu Bakar mengingkari sebagian orang yang memahami ayat tersebut, bahwa kalau ada orang yang berniat kemungkaran, ya sudah tidak perlu kita ingkari, yang penting kita sudah beriman maka tidak akan membahayakan kita, orang yang tersesat tersebut. Maka kata abu bakar ”Bukan itu maksudnya”, berarti kalian sudah meletakkan ayat tersebut bukan pada tempatnya, akan tetapi tetap kita disuruh mengingkari kemungkaran beramar ma’ruf nahi mungkar.
Maka kalau kita sudah berusaha dan ternyata mereka tetap tidak mau meninggalkan kemungkarannya, maka pada waktu itu kita berusaha untuk memelihara diri kita sendiri. Jadi tidak bertabrakan antara ayat-ayat amar ma’ruf nahi mungkar dengan ayat surat Al Maidah: 136.
Ini adalah merupakan contoh bagaimana meletakkan dalil pada tempatnya, karena
👉🏼 kesesatan yang terjadi adalah ketika dalil itu ditempatkan bukan pada tempatnya, dipahami dengan pemahaman dan nalar sendiri karena dangkalnya pemahaman, maka
👉🏼 kewajiban kita adalah untuk memahami dalil, kemudian menerapkannya pada penerapan yang benar dalam permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
“Diatas BASHIIRAH (ilmu yakin) aku dan orang-orang yang mengikuti“
Ayat ini menunjukkan bahwa 👉🏼 kewajiban kita berdakwah itu kepada Allah di atas bashiirah dan tentunya dengan mengikuti manhaj para Nabi dalam berdakwah
Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah pernah di tanya tentang seorang syaikh yang mendakwahi orang-orang yang suka berbuat maksiat dengan cara mengumpulkan mereka, dengan memukul rebana, lalu kemudian bernyanyi dengan syair-syair yang disebut sya’ir-sya’ir yang membuat hati mereka tergugah. Kemudian rupanya ketika syaikh ini melakukan perbuatan itu mereka bertaubat, mereka kemudian meninggalkan maksiat. Maka ditanya Syaikhul Islam, “Apakah yang seperti ini Boleh ? karena maslahatnya besar dan tidak mungkin mendakwahi mereka kecuali dengan ini ?
Maka Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah menjawab: pertama pertama beliau menyebutkan kaidah-kaidah dahulu.
Yang pertama bahwasanya harus diyakini, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti membawa petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkan diatas seluruh agama.
Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan kabar gembira dengan kebahagiaan bagi orang yang menaati dan kesengsaraan bagi orang yang memaksiatinya.
Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan manusia untuk mengembalikan semua yang di perselishkan kepada agama Allah kepada Alqur’an dan Hadits Nabi.
Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya beliau berdakwah kepada Allah dan kepada jalan yang lurus.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya beliau beramar ma’ruf nahi mungkar, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kalian untuk mendengar dan ta’at, karena sesungguhnya siapa yang hidup diantara kalian nanti akan melihat perpecahan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang ditunjuki.”
Pegang ia dengan gigi geraham dan jauhi oleh kalian perkara-perkara diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat. Dan ayat-ayat dan dalil yang lainnya.
Beliau (Syaikh Al Ubailaan) berkata, “Apabila kaidah ini telah di ketahui, maka hendaklah diketahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’aala. Dialah yang memberikan hidayah kepada orang-orang tersesat. Maka harus kita mengikut apa yang Allah utus dengannya RasulNya dan Alqur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka kalaulah apa yang Allah utus denganNya para Rasul itu tidak mencukupi berarti agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kurang, tidak sempurna. Dan harus diketahui bahwasanya amalan sholeh yang Allah perintahkan, baik itu yang sifatnya wajib ataupun sunnah .
Demikian pula amalan buruk yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’aala yang harus kita imani apabila tidak terdapat padanya maslahat dan mafsadah. Maka kemudian maslahatnya lebih besar dari pada mafsadahnya, maka tentu syari’at akan mensyari’atkannya.
Tapi kalau ternyata mafsadah lebih besar tentu syari’at akan melarangnya. Maka apabila demikian, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan): perbuatan syaikh tersebut mengumpulkan orang-orang yang suka berbuat maksiat. Lalu dengan mendendangkannya nyanyian dengan memakai rebana. Ini termasuk perkara yang tidak sesuai syari’at. Ini menunjukkan syaikh tersebut bodoh terhadap tata cara-tata cara syari’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dan para tabi’in dahulu mereka mendakwahi orang-orang yang lebih buruk dari mereka, yaitu orang kafir, dari orang fasik di masa itu.
Demikian pula orang-orang yang berbuat maksiat tapi tidak dengan cara seperti itu. Akan tetapi dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at, maka tidak boleh dikatakan bahwasanya tak ada cara yang syar’i, untuk mendakwahi orang-orang yang berbuat maksiat.
Karena telah juga kita ketahui secara pasti berapa banyak orang yang bertaubat kepada Allah dengan cara-cara syari’at. Bahkan lihat para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka bertaubat kepada Allah dengan cara-cara syari’at bukan dengan cara-cara bid’ah seperti itu.
Berapa banyak kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin yang mereka masuk Islam, mereka bertaubat dengan kepada Allah dengan cara-cara syari’at bukan dengan cara-cara bid’ah seperti itu.
Maka tidak boleh juga dikatakan orang yang berbuat maksiat tidak mungkin bertobat kecuali dengan cara-cara bid’ah tersebut.
👉🏼 Maka sesungguhnya yang terbaik adalah caranya sesuai dengan syari’at Bukan kita melihat pada hasil. Sebuah kesalahan tentunya bahwa kalau ada orang mengatakan yang penting hasilnya. Ini bukanlah cara yang sesuai dengan syari’at. 👉🏼 Yang terpenting adalah apakah caranya sesuai syari’at, sesuai dengan manhaj para Nabi atau tidak.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka Kami akan percepat untuk dia dalam kehidupan dunia tersebut bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami jadikan untuk dia sebagai sesuatu yang tercela dan hina“
Ayat ini tegas mengatakan bahwa orang yang tujuannya hanya dunia dan tidak mengharapkan sama sekali kehidupan akhirat, maka orang seperti ini akan di berikan apa yang dia inginkan, jika Allah kehendaki, namun di akhirat ia akan mendapatkan api neraka.
“kalau ia di beri baru ia ridho“ kalau ia di beri dunia baru ridho.
وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
“jika ia tidak diberi dunia dia marah“ Artinya ridho dan marahnya karena dunia,bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian kata beliau (Syaikh Al Ubailaan): “Pelaku bid’ah, dia adalah pengikut hawa nafsu, dimana ia beramal sesuai dengan hawa nafsunya, bukan karena sesuai dengan agamanya, dan ia berpaling dari kebenaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya.”
Maka orang seperti ini akan Allah berikan sangsi sesuai dengan hawa nafsunya. Orang seperti ini berhak untuk mendapatkan siksa di dunia dan akhirat.
Para Ulama Salaf yang menganggap fasik orang-orang khawarij dan yang sejenisnya, sebagaimana di riwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, bahwa ia menafsirkan firman Allah [ QS Al-Baqarah 26-27]
وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
“Tidaklah Allah menyesatkan kecuali orang-orang fasik“
“Yaitu orang-orang yang membatalkan perjanjian Allah setelah ia mengambilnya dan mereka memutuskan apa yang telah Allah perintahkan untuk disambung dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itu orang-orang yang merugi“
Dan bisa jadi tujuannya ini, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan). Terlebih apabila manusia telah berpecah belah dan ia termasuk orang-orang yang mencari kedudukan untuk dirinya dan untuk teman-temannya.
Apabila seorang muslim saja yang memerangi orang-orang kafir hanya karena sebatas keberanian atau karena riya’ ingin di puji. Itu bukan dijalan Allah.
Bagaimana dengan orang-orang ahli bid’ah yang berdebat, yang berjidal, diatas hawa nafsunya maka tentu mereka lakukan itu karena fanatik yang buta, maka tentu mereka lebih berhak lagi untuk dikatakan tidak di jalan Allah.
👉🏼 Maka dari itulah kewajiban kita adalah jangan sampai menjadikan ibadah ataupun agama ini sebagai wasilah untuk meraih dunia.
Sehingga pada waktu itu niat kita, tujuan kita hanya sebatas dunia saja.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Imam Ahmad, Tarmidzi dan yang lainnya:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ
“Tidaklah 2 ekor serigala yang lapar di lepaskan pada sekelompok kambing lebih berbahaya dari pada orang yang tamak terhadap harta dan kedudukan yang sangat bahaya untuk agamanya.“
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
⚉ Mereka tidak memberikan loyalitas, tidak pula memberikan permusuhan pada selain keridhoan Allah.
Artinya loyalitas mereka dan permusuhan mereka semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena hawa nafsu, bukan pula karena kepentingan dunia dan politik itulah sifat Ahlusunnah waljama’ah.
“Dan kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali untuk yang lainnya.”
Wali itu artinya memberikan loyalitas, dari kata Wala’.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman.” Diantaranya dari tiga itu, yaitu orang yang mencintai seseorang yang ia cintai karena Allah, bukan karena apa-apa.
Maka dari itu kewajiban kita adalah memberikan loyalitas dan permusuhan itu betul-betul karena Allah.
Allah menyebutkan dalam Alqur’an [QS Al-Baqarah : 167]
Allah berfirman tentang kedudukan api neraka dan orang-orang yang mengikuti. “Dan berkatalah orang-orang yang mengikut mereka, kalaulah kami masih ada kesempatan untuk kembali ke dunia kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka sekarang di akhirat berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amalan-amalan mereka menjadi penyesalan atas mereka dan mereka tidak akan pernah keluar dari api neraka.” Nauzubillah…
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini, orang-orang yang di ikuti oleh para pengikut-pengikut waktu di dunia, dimana para pengikut memberikan loyalitas bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu kamu dapati banyak orang mencintai suatu kaum dan membencinya hanya karena hawa nafsu.”
Mereka sendiri tidak mengetahui maknanya, tidak pula mengetahui di atas dasar apa, bahkan mereka memberikan loyalitas secara mutlak begitu saja dengan tanpa melihat apakah itu sesuai dengan dalil yang shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ummah atau tidak. Bahkan mereka juga tidak memahami makna loyalitas yang mereka berikan tersebut.
Maka beliau berkata :
👉🏼 “Maka tidak boleh bagi seorangpun menjadikan seseorang dalam ummat Islam ini yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.
👉🏼 Tidak boleh seseorang itu menjadikan perkataan siapapun yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan kecuali kepada firman Allah dan RasulNya saja, dan apa yang menjadi ijma para ulama seluruhnya.
👉🏼 Maka siapa yang melakukan ini yaitu yang memberikan loyalitas dan permusuhan terhadap seseorang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau terhadap ucapan seseorang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini termasuk perbuatan ahli bid’ah yang memecah belah ummat, memecah belah agama ini.“
(Majmu fatawa jilid 20, halaman 164)
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
“Dan mereka hampir-hampir memfitnahmu dari apa yang telah kami wahyukan kepada engkau agar kamu mengada-ada atas kami selain itu.”
ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا
“Jika kamu lakukan itu mereka akan menjadikanmu sebagai kekasih“
Artinya mereka berusaha terus memberikan tuduhan-tuduhan yang bermacam-macam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membawa kebenaran, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan keinginan mereka dengan berbagai macam cara dan tuduhan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Apa yang kalian sebutkan berupa ucapan yang lemah lembut dan berbicara yang lebih baik dan kalian tahu bahwa aku lebih manusia yang paling banyak menggunakan kelembutan.”
Akan tetapi kata beliau segala sesuatu pada tempatnya. Sementara Allah dan Rasulnya memerintahkan kita bersikap keras terhadap orang yang bersikap zolim dan memusuhi Alqur’an dan Sunnah. Dan kitapun juga sikapi dengan yang sama. Kita di perintahkan untuk mengajak bicara mereka dengan sikap yang lebih baik jika mereka berbuat seperti itu.
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya mereka itu orang-orang yang berada dalam kerendahan.“
Dan hendaklah kita ketahui, kata beliau; “Bahwa tidak boleh kita mengharapkan keridhoan makhluk hal ini.” Mau mencerca, mau gimana…”terserah”. Karena…
1⃣ Bahwa mengharapkan ridha mahluk itu tidak mungkin.
Imam Asy-Syafi’i berkata:
رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ
“Keridhaan manusia itu tujuan yang tidak mungkin dicapai. Hendaklah kamu berpegang kepada yang membenahi dirimu Pegang Ia dan tinggalkan selain itu.” Dan jangan kamu merasa risih dengan ledekan-ledekan manusia kepadamu.
2⃣ Bahwa kita diperintahkan untuk mengharap dan mencari ridha Allah dan rasul-Nya.
Allah berfirman dalam surat At-Tauba : 62
وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ
“Allah dan rasul-Nya lebih berhak, mereka cari ridho-Nya.“
👉🏼 Maka kewajiban adalah takut kepada Allah daripada kepada manusia.
👉🏼 Kewajiban kita adalah jangan sampai kita hanya karena takut kepada manusia kemudian kita tinggalkan yang di perintahkan oleh Allah dan rasulNya.
👉🏼 Maka kita berusaha untuk membantah para ahli bid’ah itu dengan hujjah-hijjah yang kuat agar manusia memahami dan mengetahui tentang hakikatnya, sehingga pada waktu itu kita telah membela kebenaran dan ini termasuk jihad yang besar.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Bahwa mereka mewanti-wanti manusia dari bahaya berbuat bid’ah dalam agama.
Dan juga bahaya berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.
👉🏼 Karena dua perkara ini adalah perkara yang bisa menghancurkan kemudian merusak syari’at Islam.
Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali khotbah Jum’at, beliau selalu berkata:
“Sebaik-baiknya ucapan adalah ucapan Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan seburuk-buruknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.” (dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya).
Bayangkan Nabi dalam khotbahnya selalu mengingatkan masalah bid’ah, ini menunjukkan kebid’ahan/bid’ah itu memang sangat bahaya sekali. Bid’ah itu bisa merusak kesempurnaan Islam. 👉🏼 Bid’ah itu menyebabkan akhirnya di masukkan kedalam Islam sesuatu yang bukan agama, sehingga akhirnya seseorang yang tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.
Demikian pula mereka mewanti-wanti agar jangan berkata atas Allah dengan tanpa ilmu. 👉🏼 Karena berkata tanpa ilmu ini sebab utama muncul berbagai macam pemikiran-pemikiran yang menyimpang, munculnya bid’ah, munculnya kesyirikan, munculnya penyimpangan adalah merupakan disebabkan adalah berkata atas Allah tanpa ilmu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan [QS Al-A’raf : 33]
“Katakanlah sesungguhnya Rabku mengharamkan perbuatan fahisya (maksiat) yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, dan berbuat zolim tanpa haq dan kamu mempersekutukan Allah dalam perkara yang tidak di turunkan padanya perkara ilmuNya.”
Maka ini menunjukkan bahwa berkata tanpa ilmu itu merupakan itu adalah merupakan keharaman yang paling besar/ yang paling agung. Sampai-sampai Allah menutup ayat tersebut dengan berkata tanpa ilmu .
Oleh karena itu ya Akhul Islam, Saudara-saudaraku sekalian kita berusaha dalam berbicara masalah agama ini betul-betul diatas ilmu, diatas dalil, diatas hujjah bukan sebatas ro’yu dan pendapat semata.
Karena agama ini yang berasal dari Allah dan itu adanya dari Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun pendapat-pendapat ulama bukanlah dalil dan hujjah.
👉🏼 Hujjah itu Alqur’an dan Hadits.
Ulama itu hanya sebatas wasilah untuk memahami Alqur’an dan Hadits, bukan untuk menolak Alqur’an dan Hadits.
Maka dari itulah zaman sekarang, kita melihat banyak orang-orang yang mudah berbicara tanpa ilmu, sebatas dengan ro’yu-ro’yunya saja.
Allahul musta’an
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Penjelasan tentang sebagian sebab-sebab kebatilan itu laris di tengah masyarakat.
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan ada sekitar 5 sebab, kenapa kebatilan itu bisa laris di tengah masyarakat._ Kita akan bahas satu persatu…
Kata beliau:
👉🏼 SEBAB yang pertama :
Yaitu pelakunya yang ingin melariskan kebatilan itu datang membawa kata-kata yang indah, di berikan pakaian, kefasihan dan ungkapan-ungkapan yang mengasyikkan.
Maka orang-orang yang mempunyai akal yang lemah, pengetahuan yang dangkal itu segera menerimanya dan menganggapnya baik. Bahkan orang-orang yang seperti ini akan segera meyakininya dan mengikutinya. Karena ucapannya yang begitu indah.
Seperti di zaman sekarang kita lihat banyak mereka yang melariskan kebatilan itu berceramah dengan gaya yang sangat menarik, retorika, cara yang menawan, kata-kata yang lembut. Sehingga orang-orang yang lemah pemikirannya sangat mudah sekali untuk menerimanya. Ini di isyaratkan dalam firman Allah [QS Al-An ‘am : 112]
“Demikian kami jadikan untuk setiap Nabi itu berupa syaitan-syaitan manusia dan jin, sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lainnya ucapan yang dihiasi dengan tipuan“
ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ
“Kalaulah Allah atau Rabb-mu berkehendak, tentu mereka tidak akan melakukannya.”
فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan itu“
Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa musuh-musuh para nabi itu menggunakan kata-kata yang di indah-indahkan, sehingga akhirnya tertipulah orang-orang yang lemah keilmuannya, lemah akalnya.
👉🏼 SEBAB yang ke 2 :
Yaitu dia mengeluarkan makna yang ingin ia batalkan, artinya kebenaran itu di gambarkan dengan gambaran yang buruk, membuat manusia lari darinya. Dimana ia berusaha untuk memilih lafadz-lafadz untuk membatilkan kebenaran itu dengan lafadz-lafadz yang paling tidak disukai oleh hati. Sehingga akhirnya orang yang mendengarnya menganggap bahwa makna ayat atau makna hadits itu atau makna ucapan itu ternyata begitu padahal tidak demikian.
Demikianlah ahli bid’ah dan kesesatan di zaman sekarang mereka menamai Ahlus Sunnah dengan mujassimah, hasawiyah dan yang lainnya.
Mereka berusaha supaya manusia lari dari Ahlus Sunnah seperti halnya di zaman sekarang orang yang mengatakan Allah berada diatas Arsy, dianggap mujassimah. Katanya dia menyamakan Allah dengan hambaNya. Padahal hakikatnya ketika kita mengatakan Allah bersemayam di atas Arsy, tidak sama dengan hamba-hambaNya, justru mereka yang menolak. Yaitu hakikatnya menyamakan dengan mahluknya.
Tapi itulah mereka gunakan dengan kata-kata yang membuat manusia itu lari.
👉🏼 SEBAB yang ke 3 :
Orang ahli bid’ah itu menisbatkan ta’wil dan kebid’ahan kepada orang yang tinggi kedudukannya.
Seperti ahlul bait misalnya atau ulama Misalnya: Karena dengan seperti itu akan diterima oleh orang banyak. Seperti orang yang menolak adanya Allah bersemayam diatas Arsy, menisbatkan bahwa itu ucapan keyakinan Imam Syafi’i rahimahullah. Namun mereka sendiri tidak mampu untuk membawakan sanad kepada Imam Syafi’i rahimahullah.
Kenapa..? Supaya di terima bahwa ini ada ucapan Ulama, apalagi ulama besar Imam Syafi’i rahimahullah, walau dengan tanpa sanad sekalipun. Mereka berusha berbagai macam cara supaya keyakinan mereka tersebut diterima.
👉🏼 SEBAB yang ke 4 :
Yaitu takwil atau kebid’ahan mereka itu diterima oleh orang-orang yang terkenal dalam suatu ilmu/pekerjaan yang sifatnya duniawiyah.
Misalnya: dia terkenal sebagai profesor yang cerdik, cendikiawan atau terkenal sebagai seorang dokter atau seorang ilmuwan yang berhubungan dengan masalah pertanian atau yang lainnya. Supaya bisa diterima oleh orang-orang awam. Sehinnga pada waktu itu mereka bisa melariskan kebatilan mereka dengan cara menisbatkan ucapan tersebut atau diterima oleh salah satu daripada orang-orang yang terkenal tersebut, tanpa melihat apa dia memang seorang ulama yang betul-betul berilmu ataukah dia ahli ilmu dunia saja yang penting terkenal dan diterima oleh masyarakat.
Halnya seperti di zaman kita, orang yang sangat terkenal itu sangat diketahui oleh masyarakat ketika menerima pendapat tersebut untuk di lariskan kepada masyarakat agar di terima untuk orang-orang awam yang lemah keilmuannya atau di zaman sekarang dengan cara di boomingkan seseorang, yang tentunya ilmunya sebetulnya bukan ilmu yang kuat, tapi sengaja boomingkan karena pendapat-pendapatnya itu menjadi subhat bagi orang-orang awam yang kurang faham apa dan bagaimana memahami dien dan dalil.
👉🏼 SEBAB yang ke 5 :
Yaitu menjadikan aneh bagi jiwa, bagi orang yang tidak mengenal makna-makna yang aneh. Karena jiwa kita ini suka mencari yang aneh-aneh, biasanya langsung terkenal. Maka dengan cara seperti ini mereka berusaha melariskan kebatilan, menggunakan cara seperti itu.
👉🏼 SEBAB yang ke 6 :
Memberikan mukadimah sebelum ia mentakwil, sebelum ia melariskan kebatilannya, dia menggunakan mukadimah-mukadimah akal yang bagaimana caranya supaya diterima.
Contoh misalnya : kalau merekan memberikan, kalau Alqur’an dan Hadits bertabrakan dengan akal, maka akal didahulukan daripada dalil.
Atau mereka berkata Alqur’an atau Hadits itu masih mentah. Sedangkan pendapat ulama sudah matang. Maka lebih baik kita merujuk pendapat ulama tanpa melihat dalil.
Dan kebatilan-kebatilan yang lainnya yang merupakan mukadimah-mukadimah yang tujuannya ingin melariskan kebatilan mereka.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Dari kitab yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :