All posts by BBG Al Ilmu

Mutiara Nasehat…

Nasehat Syekh Ibnu ‘Utsaimin, rohimahullah :

“..Sibukkanlah diri anda dengan aib-aib anda (sendiri), sucikan diri anda darinya semampunya, wajib atas anda dengan diri anda secara khusus, karena seseorang yang SIBUK dengan aib-aib manusia (orang lain) ia akan LELAH..

Semoga kita mampu mengamalkan nasehat beliau…

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi Lc,  حفظه الله تعالى

 

da2407162026

Makan Sederhana Bisa LEBIH ENAK, Daripada Makan Enak…

“Mereka yang sederhana dalam makanannya, kenikmatan mereka dari makanan tersebut lebih banyak daripada kenikmatan mereka yang bermewah-mewahan dalam makanannya.

Karena jika mereka yang bermewah-mewahan tersebut telah kecanduan dan terbiasa dengannya, makanan tersebut tidak akan menyisakan kelezatan yang wah, padahal mereka tidak bisa bersabar darinya, disamping sakit mereka akan menjadi banyak karenanya.”

[Oleh Syeikhul Islam, dalam kitabnya: Al-Qoidah fil Mahabbah, hal: 154]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Darini MA. حفظه الله تعالى

da2206141646

Kebanyakan Orang…

Jika kamu menasehati seseorang untuk meninggalkan maksiat, ia akan mengatakan: “KEBANYAKAN orang melakukan itu… aku tidak sendirian.”

Padahal jika kamu mengamati kata-kata “Kebanyakan Manusia” dalam Alqur’an, pasti kamu akan dapati kata-kata setelahnya:
⚉  Tidak Tahu,
⚉  Tidak Bersyukur,
⚉  Tidak Beriman.

Jika kamu mengamati kata-kata “Kebanyakan Mereka” dalam Alqur’an, pasti kamu akan dapati kata-kata setelahnya:
⚉  Pelaku Kefasikan,
⚉  Tidak Mengerti,
⚉  Berpaling,
⚉  Tidak Memahami,
⚉  Tidak Mendengar.

Maka jadilah kamu golongan minoritas, yang Allah katakan dalam firman-Nya (yang artinya):

 “SEDIKIT dari hambaku yang banyak bersyukur” (Surat Saba’: 13).

 “Tidaklah beriman bersamanya, kecuali SEDIKIT saja” (Surat Hud: 40).

⚉ “Sungguh banyak dari orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh, tapi mereka itu SEDIKIT” (Surat Shod: 24)

======

Ibnul Qoyyim, rohimahullah, mengatakan:

“Berjalanlah di atas kebenaran… jangan takut dengan sedikitnya orang yang menjalaninya. Dan jauhilah jalan kebatilan… jangan teperdaya dengan banyaknya orang yang binasa ! “

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da2806140559

Soal DZIKIR Setelah Membaca Al Qur’an

Pertanyaan:
Ust, tersebar di medsos bahwa dzikir setelah membaca al qur’an itu sama dengan doa kafarat majelis yaitu subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. Apakah benar demikian? Terima kasih atas jawabannya.

Jawab:
Abu Yahya Badrusalam Lc حفظه الله تعالى

memang ada hadits yang menunjukkan demikian, yaitu hadits Aisyah

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ  مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))

Dari Aisyah ia berkata, “Tidaklah Nabi duduk di majelis tidak pula membaca al qur’an dan tidak pula sholat kecuali menutupnya dengan kalimat kalimat tersebut.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihatmu tidaklah duduk di suatu majelis, tidak juga membaca al qur’an dan tidak juga sholat kecuali engkau tutup dengan kalimat tersebut?”
Beliau bersabda, “Iya, siapa yang berkata baik akan ditutup dengan stempel kebaikan, dan siapa yang berkata buruk, akan menjadi penghapus dosanya. Yaitu subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.”
(HR An Nasai).

Namun bila kita kumpulkan semua jalan dan matannya, tampak kepada kita bahwa lafadz: “tidak pula membaca al qur’an” bersendirian dalam menyebutkannya seorang perawi yang bernama Khollaad bin Sulaiman. Sementara perawi lainnya tidak menyebutkannya. Dan hadits diriwayatkan oleh 15 shahabat namun tidak ada lafadz: tidak pula membaca al qur’an.

Dan Khollaad ini walaupun dianggap tsiqoh namun ia bukan perawi yang masyhur dengan itqon. Sehingga bersendiriannya ini tidak bisa dianggap sebagai tambahan perawi yang tsiqoh.

Yang masyhur adalah bahwa dzikir tersebut sebagai doa kafarat majelis. Maka jika kita setelah membaca al qur’an langsung pergi meninggalkan majelis, disunnahkan membaca doa kafarat majelis tersebut. Adapun jika setelah membaca al qur’an kita masih duduk di majelis, maka tidak disyari’atkan. Yang menunjukkan kepada ini adalah hadits ibnu Mas’ud radliallahu anhu ia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku: Bacakan Al-Quran untuk aku dengar.”

“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Al-Quran di hadapan Anda, padahal Al-Quran itu diturunkan kepada Anda?” tanyaku.

Ya, tidak masalah.”

Akupun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. An-Nisa: 41)

Seketika sampai di ayat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Cukup..cukup.”

Saya melihat beliau, ternyata beliau berlinangan air mata.” (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)

Di dalam hadits tersebut, Setelah membaca al qur’an beliau tidak beranjak dari majelis. Beliau tidak membaca do’a kafarat majelis tersebut. Beliau hanya berkata: cukup.. Cukup..

Jadi dzikir : subhanakallahumma wabihamdika.. Dst adalah do’a kafarat majelisnya. BUKAN do’a setelah membaca alqur’an.

Wallahu a’lam

Courtesy of Al Fawaid

da160616

Rutinitas…

Sesungguhnya Malaikat Jibril -‘alaihissalam- bertemu Nabi -sallallahu ’alaihi wa sallam- setiap malam di bulan Ramadhan, membacakan dan mengkaji Al Qur’an”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di bulan mulia ini, Malaikat terbaik bersama Nabi terbaik mengkaji Al Qur’an secara rutin.

Lalu bagaimana dengan anda?
Sudahkah anda meluangkan waktu secara rutin untuk mengkaji Al Qur’an?

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

 

da130617-1404

Waspadai ‘Ujub Dengan Ibadah dan Keta’atanmu…

Sebagian orang tatkala melihat mesjid penuh dengan orang sholat di bulan Ramadhan, lantas dia memposisikan dirinya sebagai penyidik dan hakim, lalu berkata, “Kemana saja mereka selama ini sepanjang tahun, gak kelihatan di mesjid ???”

Saudaraku !
Ingatlah, mereka itu tamu-tamu Allah bukan tamumu.
Mereka itu di Rumah Allah bukan di rumahmu.
Mereka itu mengharapkan Rahmat Robbnya bukan rahmatmu.
Apa hakmu menghakimi mereka ?!

Waspadai ‘ujub dengan ibadah dan keta’atanmu sehingga pahalamu lenyap tanpa engkau sadari.

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

Tak Bisa Membedakan…

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah -rohimahullah- berkata :

” Keumuman ahlul bid’ah tidak dapat membedakan antara hadits yang shohih dengan yang tidak shohih, tetapi menurut mereka kebenaran itu yang sesuai dengan ro’yu dan hawa nafsu mereka “

Diterjemahkan oleh :
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi Lc, حفظه الله تعالى

12494690_213557262365595_2173975630455450926_n

da0304162051

Yang Penting Penilaian Allah Bukan Penilaian Manusia…

Jika perhatianmu hanyalah memperhatikan komentar manusia tentang dakwahmu, apakah membelamu atau memusuhimu, apakah memujimu atau mencelamu, maka waktumu akan banyak yang sia-sia terbuang, dan banyak tujuan dan cita-cita yang tidak bisa terwujudkan. Karena komentar dan para komentator terlalu banyak dan beragam, tidak akan ada habis-habisnya.

Ada yang berkata, “Sebenarnya kijang lebih cepat berlari daripada serigala, hanya saja si kijang terlalu sering menoleh ke belakang melihat kejaran serigala, akhirnya iapun menjadi mangsa serigala.”

Wallahu A’lam bis showaab.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

0210142316

Istimewanya Al Qur’an…

Istimewanya Alquran.. mari semangat membacanya, memahaminya, dan menerapkannya.

=======

Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- mengatakan:

“… oleh karena itu, kitab (Alquran) yang paling mulia itu diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, kepada rosul yang paling mulia, dibawa oleh malaikat yang paling mulia.

Itu semua terjadi di bumi yang paling mulia, dan awal turunnya pada bulan yang paling mulia, yaitu bulan Ramadhan, maka sempurnalah kemuliaannya dari segala sisi”

[Tafsir Ibnu Katsir, 4/365-366]

————–

Kemuliaan di atas kemuliaan, pantaskah kita menyia-nyiakannya ?!

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da1910151815