MUTIARA SALAF : Sesungguhnya Keselamatan Hariku Adalah

Ada seseorang berkata kepada Hatim Al-Ashom rohimahullah,

“Apa yang engkau hasratkan..?” Ia menjawab, “Aku berhasrat keselamatan hari ini hingga malam hari nanti..” Akupun berkata kepada Haatim, “Bukankah seluruh hari-harimu keselamatan..?”

Haatim berkata, “Sesungguhnya keselamatan hariku adalah hari dimana aku sama sekali tidak bermaksiat kepada Allah pada hari tersebut..”

[ Atsar diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman no 6858 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Untuk Dilewati Bukan Dimiliki

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya dunia tercipta hanyalah untuk dilewati bukan untuk dimiliki, agar engkau bisa mengambil pelajaran di dalamnya bukan untuk engkau memakmurkannya.. maka bunuhlah hawa nafsumu yang suka condong kepadanya, dan terimalah nasehatku, janganlah engkau gantungkan harapan kepadanya..”

[ Al-Mudhisy hal 274 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Bagaikan Mimpi Ketika Tidur

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Hari-hari di dunia ini bagaikan mimpi-mimpi ketika tidur atau laksana bayangan yang akan segera hilang.. apabila dunia bisa membuat tertawa sesaat, maka ia juga bisa membuat banyak tangisan..

Jika dunia (yang fana) bisa membahagiakan sehari atau beberapa hari, maka ia juga bisa menyengsarakan beberapa bulan atau bahkan sekian tahun..”

[ ‘Uddatush Shoobirin – 336 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Janganlah Meremehkan Pintu Kebaikan Yang Dibuka Untuk Orang Lain

Syaikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr, hafizhohullah berkata,

“Janganlah anda meremehkan pintu kebaikan yang dibuka untuk orang lain.. karena bisa jadi dimudahkan kepadamu untuk banyak berpuasa, yang lain dimudahkan untuk membantu kaum muslimin dengan kegiatan-kegiatan sosial yang bisa jadi engkau melihat bahwasanya perkara itu remeh dibandingkan dengan sholatmu, sedekahmu atau puasamu. Padahal bisa jadi juga amalan orang lain lebih besar disisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada apa yang engkau lakukan..”

[ Kaifa Takunu Miftahan Lil Khoir ]

Mengatakan “Tidak Tahu” Dengan Jujur

Google mencerdaskan anda atau menjadikan anda bodoh..?

Mengatakan “tidak tahu” dengan jujur adalah jawaban cerdas, bukan jawaban bodoh.

Penyakit di zaman ini, terutama orang yang terlanjur dipandang atau ditokohkan terlebih lagi di media sosial, adalah ceroboh menjawab, berkomentar, dan menulis.

Jujur dengan berkata “saya tidak tahu” menjadi momok paling menakutkan di dunia maya. Dengan dalih, kalau tidak tahu kan tinggal tanya ke “mufti google”, dan sejurus kemudian jadi ulama’ besar.

Yuk, kita “uri uri” alias kita hidup suburkan kejujuran dengan berkata “saya tidak tahu”

➡ Lebih baik diam daripada berkata dalam urusan agama yang tidak kita kuasai ilmunya.

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung..” (An Nahel 116)

Semoga mencerahkan.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah