“Umar bin Khottob -rodhiallohu ‘anhu- mengatakan: ‘Siapa yang memoles dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, niscaya Allah menampakkan keburukannya’…
Begitu pula orang yang memoles dirinya dengan ibadah, dia menampakkan kepada manusia bahwa dia seorang ahli ibadah, maka Allah ‘azza wajall pasti akan membongkarnya -semoga Allah melindungi kami dan kalian dari RIYA-.
Sepandai apapun manusia menutupi, Allah tetap mengetahui, dan Dia akan membongkar kedok orang yang beramal bukan karenaNya.
Jadi timbanglah semua amalanmu dengan perkataan Umar -rodhiallohu ‘anhu- ini !”
[Syarah Hilayatu Tholibil Ilm, Hal: 49-50].
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 31) bisa di baca di SINI
“Janganlah kalian mendebat ahli kitab kecuali dengan yang lebih baik.”
Banyak Ulama tafsir, menafsirkan makna yang lebih baik yaitu menggunakan lemah lembut. Karena kelembutan itu adalah disukai oleh semua orang.
Rosulullah besabda:
إن الر فق لا يكو ن فِي شيء إلاَّ زانه
“Kelemah lembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (dikeluarkan oleh Imam Muslim)
Dan ketika seseorang disampaikan padanya kebenaran dengan cara yang kurang bagus, sering kali orang tersebut menolak. Padahal yang disampaikan itu sebetulnya kebenaran.
⚉ Al Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah, dalam kitabnya Minhaajussunnah (jilid 5/hlm 254), berkata :
وإن كان عالِمًا ، ولَمْ يكن ر فيقًا كان كالطبيب الذي لا رفق فيه
“Jika ia ‘alim, tapi ia tidak punya sifat lembut, itu seperti dokter yang tidak punya sifat lembut”, dimana si dokter itu bersikap keras, kasar kepada seorang yang sakit, dan ternyata orang sakit itu tidak mau menerima.
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa dan Harun [QS Thaha : 44]
“Ucapkanlah kepada Fir’aun dengan ucapan yang lemah lembut, supaya ia mau ingat atau takut.”
Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh Nabi Musa dan Harun untuk menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut kepada Fir’aun.
Kata Beliau:
و المخاطبة باللَّين و التلطف تُستعمل مع مَن أظهر إنصافًا و طلبًا للحقَّ
“Sikap lemah lembut itu digunakan untuk orang yang mempunyai sifat inshof dan mudah menerima kebenaran.” Namun sikap lemah lembut itu tidak bisa digunakan secara mutlak. Segala sesuatu hendaknya kata Beliau diletakkan pada tempatnya masing-masing, karena sebatas lembut saja tidak bagus, sebagaimana sebatas keras sajapun tidak bagus, tapi semunya harus diletakkan pada tempatnya masing-masing.
⚉ Shidiiq Hasan Khan berkata dalam kitab ’Abjadul ‘uluum (jilid 1/hlm 129)
إن الرَّ د بالتو بيخ يهتك حجاب الهيبة
“Membantah dengan memburuk-burukkan orangnya itu bisa menjatuhkan kewibawaan,”
و يو ر ث الجر أة على الهجو م بالخلاف
“Dan menyebabkan lawan itu akan berani untuk menyerang”
ويُهيج الحر ص على اﻹصرار
“Bahkan menyebabkan orang yang kita bantah itu semakin ngeyel.”
Ini perkataan Beliau ini menunjukkan bahwa, walaupun kita membantah itu dengan hujjah dan dalil secara ilmiyah, tapi kalau kita isinya memburuk-burukkan, menjelek-jelekkan, maka itu menjadi sebab orang yang kita bantah akhirnya muncul emosinya, akhirnya tidak mau menerima kebenaran, karena yang salah adalah orang yang menyampaikannya.
Oleh karena itulah didalam menyampaikan kebenaran pun juga kita harus berusaha melihat siapa orang yang hendak kita sampaikan padanya kebenaran.
⚉ Kata Ibnul Qayyim rohimahullah, di dalam kitab Miftaahdaaris sa’adah ( jilid 1/ hlm 171)
وأمَّا المعار ضو ن المدعو ون با لحقَّ فنو عان
“Adapun orang-orang yang menentang yang didakwahi dengan kebenaran, itu ada dua macam:”
1. يُدعون بالْمُجادلة. بالتِب هي أحسن
1. “Mereka di dakwahi dengan cara berdebat dengan yang lebih baik.” Jika mereka tidak menerima maka pada waktu kita debat dengan kuat, dengan hujjah, dan burhan.
Maka kata Beliau, kalau kita memperhatikan Al Qur’an kita dapati Al Qur’an pun juga memerintahkan seperti ini. Allah berfirman [ QS an-Nahl : 125]
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Debatlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik.”
Ini untuk orang yang sulit untuk menerima kebenaran atau ngeyel dan harus kita debat dengan debat yang kuat, dengan ilmu, hujjah, dan burhan.
2. Adapun orang yang mudah menerima kebenaran maka kita dakwahi dengan kelemah lembutan, karena itu asal daripada dakwah itu adalah lemah lembut.
.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.”
Tsauban bertanya, “Wahai Rosulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”
Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka sholat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.”
Yang masyhur, Ubaidullah bin Jahsy suami ummu Habibah ketika hijrah ke Habasyah bersama ummu Habibah, ia masuk agama nashrani.
Namun Sanadnya tidak shahih. Semua jalannya lemah.
Justru lahiriyah riwayat-riwayat yang shahih menunjukkan bahwa ia meninggal dalam keadaan muslim. Maka Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam ingin menghibur kesedihan ummu Habibah yang berhijrah karena Allah dengan memperistrinya dan menjadi salah satu ummahatul mukminin.
Yang masyhur, umur Khadijah ketika menikah dengan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam adalah 40 tahun. Tapi dalam sanadnya terdapat Al Waqidiy. Ia matruk.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa umur Khadijah saat itu adalah 28 tahun. Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Pendapat ini lebih kuat. Terlebih Khadijah mempunyai anak dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam 2 laki laki dan 4 wanita.
(Siroh Nabawiyah Shahih karya DR Akrom Al Umari 1/113)
=======
penyaluran dana riba dan syubhat untuk beberapa kegiatan terkait kemaslahatan ummat seperti pembuatan fasilitas air bersih, jaringan pipa air bersih, wc umum, sumur, paving jalanan, dan sejenisnya.
لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ
“Tidaklah suatu kaum mengakhirkan (yaitu menuju masjid) hingga Allah akan mengakhirkan mereka”
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rohimahullah menjelaskan :
إن الإنسان كلما تأخر عن الصف الأول والثاني أو الثالث (أي في الصلاة) ألقى الله في قلبه محبة التأخر في كل عمل صالح والعياذ بالله.
“Tatkala manusia terlambat mendatangi shalat dari menempati shaf pertama, kemudian (shalat berikutnya) terlambat lagi shaf kedua, kemudian shaf ketiga (apalagi sengaja terlambat/ ketinggalan shalat berjamaah), maka Allah buat hatinya suka mengakhirkan semua amal shalih.”
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.