KITAB FIQIH – Apa Saja Yang Boleh Dilakukan Dalam Sholat – PART 1

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Apa Yang Membuat Sholat Itu Terputus..?  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

⚉ SEBATAS MENGGARIS TIDAK MENCUKUPI DALAM SUTROH

Karena tidak ada satupun hadits yang shahih, adapun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“apabila salah seorang dari kalian sholat hendaklah menjadikan sesuatu dihadapannya, apabila tidak mendapatkan apa apa hendaklah ia mendirikan tongkat, jika tidak ada tongkat maka hendaklah ia menggaris dan tidak membahayakan orang yang lewat dihadapannya.”

Hadits tersebut DHO’IF dan banyak para ulama mendho’ifkan hadits tsb dan diantaranya Syaikh Al Bani dan yang lainnya. Demikian pula di dho’ifkan pula oleh Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Imam Al Baghawi dan yang lainnya. Imam Malik berkata bathil.

Maka sutroh yang paling pendek yaitu setinggi pelana unta yaitu sekitar 30 cm. Sebagaimana telah disebutkan hadits yang telah lewat dimana Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika menyebutkan tentang hal hal yang memotong/memutuskan sholat seseorang Nabi menyebutkan sutroh itu hendaknya setinggi pelana unta.

⚉ APA SAJA YANG BOLEH DILAKUKAN DALAM SHOLAT

Kemudian Nabi menyebutkan apa saja yang boleh dilakukan dalam sholat yaitu ;

1️⃣ Menangis,
Ini berdasarkan Abdullah bin Syakhir ia berkata,

“Aku melihat Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat sementara di dadanya terdengar bagaikan air yang mendidih karena menangis.”
[HR. Imam Abu Daud, Nasa’i dan Khuzaimah]

2️⃣ Menengok, demikian pula berisyarat karena dibutuhkan.
Berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam dari Jabir, ia berkata,

“bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah sholat dalam keadaan beliau sedang sakit dan beliau sholat dalam keadaan duduk dan Abu Bakar memperdengarkan kepada manusia takbirnya, lalu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menengok kepada kami dan melihat kami berdiri maka beliaupun memberi isyarat kepada kami agar duduk maka kamipun duduk.” [HR. Muslim]

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menengok untuk keperluan, adapun jika tidak ada keperluan maka itu dianggap sebagai copetan setan, sebagaimana dalam hadits bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh ‘Aisyah tentang menengok dalam sholat maka Nabi bersabda,

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ ؟ فَقَال : هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ

“Itu adalah copetan dari copetan-copetan setan dari sholatnya seorang hamba.” [HR Bukhori]

3️⃣ Membunuh kalajengking, ular, atau binatang yang berbahaya saat sholat. Berdasarkan hadits Abu Hurairoh

اقتلوا الاسودين في الصلات الحية والعقرب

“Bunuhlah dua yang hitam dalam sholat yaitu ular dan kalajengking” [HR Abu Daud]

4️⃣ Berjalan sedikit untuk keperluan. Berdasarkan hadits ‘Aisyah adalah,

“Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat dan pintu terkunci lalu aku datang meminta untuk dibukakan pintu, maka beliaupun berjalan dan membuka pintu kemudian kembali lagi ketempat sholatnya.” [HR Imam Abu Daud]

5️⃣ Menggendong anak jika dibutuhkan. Berdasarkan hadits Abu Qotadah Al Anshori ,

“Bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah sholat dalam keadaan menggendong Umamah bintu Zainab bintu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam apabila beliau hendak sujud beliau letakkan, apabila beliau berdiri beliau kembali menggendongnya.”
[HR Bukhori dan Muslim]

Dalam suatu riwayat beliau menggendongnya di lehernya.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Al Hammaaduun : Siapakah Yang Mendapatkan Gelar Tersebut..?

===
Inginkah anda mendapat julukan AL HAMMAADUUN..? Perbanyaklah ucapan ALHAMDULILLAH .. baik dalam keadaan senang maupun sedih.

Berikut adalah beberapa ucapan hamdalah yang dicontohkan Rosulullah Shollallahu’alaihi wasallam (klik salah satu poster dibawah dan slide ke kiri/kanan)
===

=======
ARTIKEL TERKAIT
berikut adalah link artikel lebih dari 10 keutamaan dari 4 kalimat mulia : subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallaahu akbar :

https://bbg-alilmu.com/archives/54812

MUTIARA SALAF : Memutus Harapan Dari Makhluk

Syaikh al-Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

“والله لو يئست من الخلق
حتى لا تريد منهم شيئا:
لأعطاك الله مولاك كل ما تريد”.

“Demi Allah, Seandainya kamu memutus harapan dari makhluk hingga kamu tidak berharap sesuatupun dari mereka niscaya Allah Pelindungmu akan memberikan kepadamu segala yang kamu inginkan.”

[ Jami’ Al-Ulum Wal Hikam, hlm. 264 ]

Kisah Ulama

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Waspadalah Dari Sanksi Yang Tak Terasa

Ada seseorang yang bertanya..
Kita banyak berbuat maksiat..
tapi jarang sekali Allah memberi sanksi..

Sang guru menjawab:

– bukankah kamu pernah tidak merasakan nikmat saat bermunajat dengan-Nya..?

– bukankah pernah lewat hari-hari sementara kamu tidak mampu membaca al qur’an..? atau kamu membaca alqur’an tetapi hatimu tidak khusyu dan tidak menikmatinya.. padahal jika al qur’an diturunkan kepada gunung, ia menjadi takut..

– bukankah pernah lewat malam-malam dan kamu merasa berat untuk sholat malam..?

– bukankah lewat waktu-waktu utama untuk berpuasa.. lalu kamu tidak semangat melakukannya..

– bukankah lisanmu pernah terasa kaku untuk berdzikir kepada-Nya.. dan banyak waktumu lewat tanpa mengingat-Nya..

– bukankah kamu pernah meremehkan maksiat..? sehingga hatimu tak lagi mengingkarinya.. adakah sanksi yang lebih besar dari itu..?

– bukankah kamu sering melewatkan waktu untuk hal hal yang tidak bermanfaat..

– bukankah terkadang dijadikan keinginan terbesar kamu adalah dunia.. sementara akherat sering kamu kesampingkan..

Wahai anakku..
Waspadalah sanksi yang tidak dirasakan..
Karena sanksi yang terasa itu..
lebih ringan dari yang tidak kita rasakan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

HADITS : Hari Yang Dipilih

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّلة على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء ، وهذا الشهر – يعني شهر رمضان

“Saya tidak pernah melihat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyuro, dan puasa bulan Ramadhan.”

(HR. Al Bukhari 2006 dan Muslim 1132)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

MUTIARA SALAF : Sesuai Kadarnya

Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah berkata,

رهبة العبد من الله على قدر علمه بالله، وزهده في الدنيا على قدر رغبته في الآخرة.

“Rasa takut seorang hamba kepada Allah sesuai kadar ilmunya tentang Allah, dan sikap perendahannya terhadap dunia sesuai dengan kadar kecintaannya terhadap akhirat.”

[Az-Zuhd al-Kabir, 74]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Maklumaat…

bismillahirrohmaanirrohiim
.
alhamdulillah wash-sholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillah

Berikut ini akan kami sampaikan informasi terkait donasi untuk pengungsi gempa di halmahera selatan ( https://bbg-alilmu.com/archives/43785 )

Sekedar memberikan gambaran sulitnya medan, informasi dari  relawan adalah diperlukan waktu hingga sekitar 10 jam untuk mencapai wilayah Gane Barat dari Ternate dengan perahu, dan sambungan sinyal kurang memadai.

Informasi awal yang kami terima adalah adanya kebutuhan fasilitas mck bagi para pengungsi. Lalu pemerintah daerah menyiapkannya, sehingga donasi yang tersedia via Al Ilmu dicoba dialihkan untuk penyediaan fasilitas air bersih di suatu masjid di wilayah tersebut.

Namun karena belum adanya kepastian juga, maka donasi yang kami sudah kirim ke relawan, dikembalikan lagi secara penuh ke Al Ilmu.  Qoddarullah, sampai saat ini belum ada kelanjutan dari rencana tersebut karena mungkin kendala utama adalah jarak dan komunikasi.

Oleh sebab itu, dan untuk manfaat yang lebih besar dan baik, kami akan me-realokasikan dana tersebut untuk kegiatan pengadaan air bersih di wilayah lainnya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan balasan yang berlipat atas niat awal infaq ke para pengungsi gempa, dan juga menjadikan infaq yang sama sebagai amal jariyah juga di program lainnya… aamiiin

========================
Berikut adalah artikel terkait dengan niat sedekah.

Niat punya peranan penting dalam setiap ibadah termasuk dalam sedekah. Ada kisah dalam hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab yang sudah  sangat masyhur di tengah-tengah kita yaitu kitab Riyadhus Sholihin. Kisah ini berkaitan dengan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, setiap amalan itu tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al Akhnas rodhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422).

Kisah di atas menceritakan bahwa ayah Ma’an (Yazid)  ingin bersedekah kepada orang fakir. Lantas datang anaknya (Ma’an) mengambil sedekah tersebut. Orang yang diwakilkan uang tersebut di masjid tidak mengetahui bahwa yang mengambil dinar tadi adalah anaknya Yazid. Kemungkinan lainnya, ia tahu bahwa anak Yazid di antara yang berhak mendapatkan sedekah tersebut. Lantas Yazid pun menyangkal dan mengatakan bahwa uang tersebut bukan untuk anaknya. Kemudian hal ini diadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun bersabda, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati”.

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Setiap amalan tergantung pada niatan setiap orang. Jika seseorang telah meniatkan yang baik, maka ia akan mendapatkannya. Walaupun Yazid tidak berniat bahwa yang mengambil uangnya adalah anaknya. Akan tetapi anaknya mengambilnya dan anaknya tersebut termasuk di antara orang-orang yang berhak menerima. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan.”

2- Setiap orang akan diganjar sesuai yang ia niatkan walaupun realita yang terjadi ternyata menyelisihi yang ia maksudkan. Termasuk dalam sedekah, meskipun yang menerima sedekah adalah bukan orang yang berhak.

Ref : https://rumaysho.com/3361-setiap-amalan-tergantung-pada-niat.html

 

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Bid’ah Hasanah # 2…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Bid’ah Hasanah # 1: Antara Bahasa dan Istilah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Bid’ah Hasanah # 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. 

Diantara dalil yang digunakan oleh orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah yaitu hadits yang diriwayatkan dari Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, bahwa Beliau bersabda

‎إن اللّٰه نظر في قلوب العباد ، فو جد قلبَ محمد صلى اللّٰه عليه وسلم- خير قلوب العباد ، فاصطفاه لنفسه فا بتعثه بر سالته ، ثم نظر في قلو ب العباد ، بعد قلب محمد ، فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد ، فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه ، فما رأى المسلمون حسناً فهو عند اللّٰه حسن ، وما رأوا سيئاً فهو عند اللّٰه سيء

“Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, lalu Allah menemukan hati Muhammad sebaik-baik hati hamba-Nya, maka Allah memilihnya untuk Diri-Nya dan Allah pun mengutus dengan membawa risalah-Nya, kemudian melihat hati para hamba, setelah hati Muhammad ternyata Allah mendapati hati para Sahabatnya adalah hati yang paling baik daripada hamba-hamba-Nya. Maka Allah jadikan mereka sebagai sahabat-sahabat Nabi-Nya yang berperang atas agama-Nya, maka apa-apa yang dilihat oleh kaum muslimin baik maka ia disisi Allah juga baik, dan apa yang mereka lihat buruk maka disisi Allah juga buruk.”

Kita jawab hadits ini;

Pertama Hadits ini tidak sah dari sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam justru ia palsu dari sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama, seperti Al Imam Adz-Dzahabiy dalam Almiyzan I’tidal,
Bahwa didalam sanadnya ada Abu Daud An Nafakhi yaitu Sulaiman bin Amr, Dia (kata Imam Ahmad) suka memalsukan hadits , sehingga hadits ini palsu.

Demikian pula dikatakan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyah.

Demikian pula Ibnul Qayyim rahimahullah, Beliau berkata dalam kitab Alfuruwsiyah halaman 82

ﷺ ‎ليس من كلام رسول اللّٰه ‎

“Ia bukanlah dari sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam”

Yang benar bahwa ini adalah dari ucapan Abdullah bin Mas’ud. Karena demikian dalam riwayat-riwayat jalan-jalan yang kuat itu adalah dari ucapan Beliau.

Kemudian.. apa yang dimaksud oleh Abdullah bin Mas’ud dari ucapannya ‘apa-apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik, maka itu disisi Allah baik’

1⃣ Harus kita pahami bahwa Abdullah bin Mas’ud sahabat yang menentang bid’ah secara keseluruhan. Dan Beliau tidak pernah menyatakan adanya bid’ah hasanah.

Beliau berkata:

‎اتبعوا ولا تبتدعوا ، فقدكُفيتم كل ضلالة

“Ikutilah, jangan berbuat bid’ah, kalian telah dicukupi, semua sesat.
(artinya semua bid’ah itu sesat) (dikeluarkan oleh Imam Ad Darimi)

Kemudian Beliau juga mengingkari suatu kelompok yang berkumpul untuk berdzikir dengan kerikil di masjid Kufah. Lalu Ibnu Mas’ud berkata,

‎لقد أحد ثتم بد عةً ظلماً

“Kalian telah mengada-ada bid’ah yang gelap, yang zholim”

Ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud mengingkari kebid’ahan. Dan Beliau tidak pernah membagi bid’ah menjadi baik dan menjadi hasan atau sayyi’ah dholalah.

2⃣ Bahwa kalau yang dimaksud ‘apa yang dipandang oleh kaum muslimin itu baik’, artinya bahwa yang dimaksud ini adalah yang dianggap baik oleh seorang ahli ijtihad/seorang alim, itu sebagai kebaikan itu baik, ini sama saja menyaingi Allah dalam Uluhiyah.

Allah berfirman [Surat Asy-Syura Ayat 21]

‎أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang men syari’atkan tuk mereka dari agama ini sesuatu yang Allah tidak izinkan”

Imam Syafi’i berkata, “ini menunjukkan bahwasanya tidak boleh seorangpun selain Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam untuk mengatakan dengan tanpa dalil, hanya sebatas dengan menganggap baik saja”

Karena kata Beliau (Imam Syafi’i)

‎فإن القول بما استحسن شيء يُحدثه لا على مثال سبق

“Karena hanya berpendapat dengan istisan saja/menganggap baik saja, itu perkara yang diada-adakan” [Imam Syafi’i dalam Kitab Arrisaalah halaman 25]

3⃣ Bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Mas’ud dalam perkataan Beliau ini, ‘apa-apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik maka itu baik’ itu maksudnya para sahabat, karena Beliau sedang menceritakan tentang para sahabat, lihat saja diawalnya.

Dimana Ibnu Mas’ud mengatakan ‘lalu Allah melihat setelah hati Nabi Muhammad, hati para hamba ternyata yang terbaik adalah hati para sahabat. Lalu Allah jadikan para sahabat sebagai pembela-pembela Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.’

Maka ‘apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin’, maksudnya para sahabat, terlebih Beliau berbicara saat itu tentang khalifah Abubakar rodhiyallahu ‘anhu.

Maka ini tidak bisa dijadikan hujjah sama sekali akan adanya bid’ah hasanah.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Mendingan Siapa Ya..?

Mendingan siapa ya..
yang berjenggot tapi saklek..
atau gak berjenggot tapi gaul..

yang hijabnya syar’iy tapi ujub..
atau yang gak berhijab syar’iy tapi gak ujub..

yang udah ngaji tapi akhlaknya kurang..
atau yang belom ngaji tapi akhlaknya bagus..

hmmmm….

Kalau dipikir pikir..
pembandingan gini kurang bagus..
menghalangi orang untuk menjadi lebih baik..

enaknya gini..

mending berjenggot tapi akhlaknya baik..

mending berhijab syar’iy tapi tawadlu’ dan gak ujub..

mending udah ngaji dan berakhlak mulia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da3101152104

Menebar Cahaya Sunnah