Ketahuilah, sejatinya rasa nikmat dan siksa di dunia ini sering kali bersifat semu. Betapa banyak urusan yang menurut anda terasa begitu nikmat dan menyenangkan, namun bagi banyak orang hal yang sama terasa menyiksa dan menyakitkan.
Membuang sampah sembarangan, di aliran sungai, di jalan, dan dimanapun anda mau, memang bagi anda terasa nyaman alias memudahkan. Namun bagi banyak orang perbuatan anda ini tentu menyedihkan dan sering kali mendatangkan petaka.
Parkir kendaraan sembarangan, memang memudahkan anda namun sering kali menyengsarakan banyak orang.
Bertutur kata sesuka hati anda memang ringan dan sering kali terasa menyenangkan, namun sesering itu pula ucapan anda menyakitkan perasaan orang.
Walau anda merasa bahagia dan senang dengan perbuatan di atas, namun ketahuilah cepat atau lambat dan pada gilirannya nasib malang serupa pasti menimpa anda.
Karena itu, berpikirlah dan timbanglah setiap ucapan dan perbuatan anda. Tidak semua yang anda senang lantas boleh anda lakukan, namun pikirkanlah agar tindakan dan ucapan anda itu juga dapat menyenangkan setiap orang yang mengetahui atau merasakannya.
Kepekaan anda terhadap efek dari setiap ucapan dan perbuatan anda adalah cermin dari iman anda. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dari kitab yang berjudul “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa“, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
. =======
Kita akan memulai kitab baru karena kitab ‘Showarif ‘Anil Haq’ sudah selesai. Kitab baru yaitu judulnya “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
Disini beliau membawakan Pendahuluan…
شروط العمل المقبو ل
⚉ Syarat-syarat amal yang diterima
Beliau memberikan tamhid Dimana intinya bahwa… amal itu tidak diterima kecuali dengan dua syarat:
1. IKHLAS Yaitu mengharapkan ridho Allah semata, tidak mengharapkan pujian manusia, tidak pula mengharapkan kehidupan dunia dan kesenangannya.
2. SESUAI DENGAN SUNNAH ROSULULLAH SHOLLALLAHU ‘ALAYHI WASALLAM
Dimana dalil daripada dua syarat ini adalah QS Al Kahfi:110 Allah Ta’ala berfirman:
“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Robbnya hendaklah ia beramal sholeh dan janganlah ia mempersekutukan Allah sedikitpun juga.”
Disini kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat ini menunjukkan dalil bahwa syarat diterimanya amal itu dua: 1. Ikhlas 2. Sesuai dengan tuntunan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam
⚉ Adapun IKHLAS, maka ia adalah merupakan tujuan diciptakannya manusia dan jin bahkan seluruh mahluk untuk mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah.
Dan kebalikannya adalah syirik, yaitu seseorang memalingkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka orang yang mengharapkan pujian manusia dalam ibadahnya, ia telah berbuat syirik yaitu syirik riya’ (syirik kecil). Tapi syirik kecil lebih besar dosanya dari dosa besar.
Demikian pula orang yang mengharapkan dunia lebih besar daripada mengharapkan keridhoan Allah. Inipun juga syirik. Apalagi apabila ia tidak mengharapkan ridho Allah sama sekali, maka ini syirik besar.
“Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kami akan berikan sesuai dengan apa yang ia inginkan dari amalannya tersebut tanpa dikurangi”
“maka mereka itu di akhirat tidak mendapatkan apa-apa kecuali api neraka dan batal apa yang mereka usahakan dan sia-sia apa yang mereka amalkan”
Berarti ayat ini menunjukkan bahwa orang yang hanya menginginkan kehidupan dunia dari amalannya, bukan hanya ditolak amalnya tapi juga dosa disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Imam As Suyuthi mengatakan:
Orang yang beribadah haji contohnya dengan niat dua; 1. Ikhlas karena Allah 2. Karena untuk tujuan dunia
Maka di lihat mana yang lebih dominan.
Apabila dominannya adalah karena Allah, ia dapat pahala, dan apabila dominannya karena dunia maka ia dapat dosa. Dan apabila sama-sama kuatnya, maka saling berguguran tidak mendapat pahala, tidak pula mendapat dosa.
👉🏼 Maka hati-hatilah, jangan sampai tujuan daripada ibadah kita adalah mengharapkan dunia.
⚉ Adapun SESUAI DENGAN CONTOH Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam itu ada enam perkara: 1. Tata caranya 2. Tempatnya 3. Waktunya 4. Jumlahnya 5. Sebabnya 6. Jenisnya
👉🏼 Maka ibadah yang telah ditentukan tata caranya atau waktunya atau tempatnya atau jumlahnya atau sebabnya atau jenisnya, tidak boleh di rubah-rubah.
Adapun ibadah yang belum ditentukan tata caranya atau waktunya atau tempatnya atau jumlahnya atau sebabnya atau jenisnya, maka tidak boleh kita menentukan sendiri dengan keyakinan adanya keutamaan disitu kecuali dengan dalil
.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa“, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
”Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Bahasa Rasul yang diutus kepada mereka dan menyampaikan dakwahnya dalam bahasa itu pula. Bahasa yang jelas dan gamblang. Dan renungkanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang baik ini.
Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan melalui malaikat yang paling utama, diturunkan kepada manusia yang paling utama pula, dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama, yaitu hati, untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih yaitu bahasa Arab yang jelas.”
Telah sampai kepadaku kabar, bahwasanya akan dikatakan kepada seorang hamba pada hari kiamat, “bangkitlah engkau, ambilah hakmu dari si fulan..”
Maka orang ini berkata,
“Aku tidak memiliki hak dari sisinya..”
Maka dikatakan kepadanya ,
“Bahkan engkau memiliki hak darinya. (Karena) Dia menyebut-nyebut (kejelekanmu) pada hari ini dan ini dengan (ghibah) ini dan ini..”
(Diriwayatkan Oleh Al-Baihaqi, Syu’abul Iman 6313)
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.
Dari kitab yang berjudul “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa“, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
. =======
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.