Category Archives: BBG Kajian

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah #1

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Ini adalah pembahasan pertama dari kitab ini.
.
=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah #1 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita sekarang masuk ke kitab baru..  yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, yang ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.

Kitab ini membahas tentang masalah kafir-mengkafirkan dan batasan-batasan serta kaidah-kaidahnya.

Sebuah kitab yang sangat kita butuhkan dizaman ini, karena dizaman ini kita lihat banyak orang yang sangat mudah mengkafirkan tanpa melihat batasan-batasannya.

Disini Beliau membuka dengan, pembahasan yang pertama, “yaitu tentang selayang pandang tentang hakikat iman menurut ahlussunnah dan firqoh-firqoh yang sesat, agar kita mengetahui perbedaan masalah iman menurut ahlussunnah dengan firqoh-firqoh sesat.”

Beliau akan memulai pembahasan dari sini dulu.
Beliau berkata, “manusia berbeda pendapat tentang hakikat iman yang Syar’i menjadi beberapa pendapat”

1⃣ Yang pertama adalah pendapat ahlussunnah wal jama’ah yang wajib kita yakini. Karena inilah yang diyakini oleh Rosulullah dan para sahabatnya, dan para Ulama-Ulama yang mengikuti mereka.

Kata Beliau:
“Ahlussunnah wal jama’ah meyakini bahwa iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota badan”

⚉ Imam Ahmad berkata, “Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang” (Dalam Kitab Assunnah yang ditulis oleh Abdullah bin Imam Ahmad jilid 1 hal 307)

Disini Imam Ahmad mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan adalah ucapan hati dan lisan. Sedangkan perbuatan mencakup perbuatan hati, perbuatan lisan dan perbuatan anggota badan.

⚉ Berkata Abu Bakar Ajurri dalam Kitab Beliau Assyari’ah Babul Iman (bab Al Iman).
Beliau menyebutkan dalam bab iman itu sebuah Bab keyakinan, “bab keyakinan bahwa iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, mengamalkan dengan anggota badan, dan tidak menjadi mukmin (maksudnya mukmin yang sempurna) kecuali dengan berkumpul padanya tiga perkara tersebut.” (Dalam Kitabu Syari’ah jilid 2, hal 611)

⚉ Berkata Al Hafiz Abu Bakar Al Ismail, ketika mensifati keyakinan ahlussunnah, beliau berkata, “Ahlusunnah berkeyakinan
Iman adalah ucapan, perbuatan dan keyakinan (pengetahuan).
Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”
(Dalam Kitab ‘Itikot Ahlissunnah hal 39)

⚉ Berkata Abu Utsman Ismail Ashabuuny dalam Kitab Aqidatulsalaf wa Sahabul Hadits hal 264,
“Bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan dan ma’rifah.
(Ma’rifah yaitu pengetahuan atau keyakinan), bertambah dengan keta’atan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

Kata Beliau,
“Ini adalah pendapat seluruh Ulama Salaf dari sahabat dan tabi’in
Dan juga pendapat para Ulama al Muhaqqiqin (yang mengikuti mahzab salaf).

Sebagaimana banyak diantara mereka menyatakan bahwa ini adalah ijma’, seperti Imam asy-Syafi’i rohimahullah. Beliau berkata, sebagaimana dinukil oleh Imam Ala Likail dalam syarah kitab Ushul Syarah Ushul Al ‘Itiqot Ahlissunnah jilid 5, hal 886-887,

⚉ Imam asy-Syafi’i berkata,
“Dan menjadi ijma para sahabat, tabi’in dan Ulama setelah mereka yang kami temui, bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan niat, dan tidak mencukupi salah satu dari yang lainnya.” artinya tidak mencukupi satu saja tanpa tiga tersebut, artinya tiga-tiganya harus terpenuhi.

Ini adalah merupakan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dan kita lanjutkan nanti, in-syaa Allah
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KITAB FIQIH – Tempat Mulainya Qoshor

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Berapa Jarak Yang Boleh Kita Meng-Qoshor Sholat  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan..

⚉ TEMPAT YANG MULAI IA MENG-QOSHOR DARINYA

Jumhur ulama berpendapat bahwa meng-qoshor sholat itu dimulai ketika kita sudah berpisah dengan bangunan-bangunan kota, dia sudah mulai keluar kota dan bahwasanya itu adalah syarat.

Ibnul Mundzir berkata, “kami tidak mengetahui bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam meng-qoshor pada sesuatupun dari safarnya kecuali setelah keluar dari kota Madinah.”

Berkata Anas, “aku sholat zhuhur bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam di Madinah 4 roka’at dan di Dzulhulaifah 2 roka’at.” (HR Bukhori)

Hal ini menunjukkan bahwa misalnya ketika kita misalnya mau pergi ke Bandung, kemudian kita sudah keluar dari kota Jakarta maka saat itu kita sudah boleh untuk mulai meng-qoshor.

Seorang musafir apabila pergi safar karena ada keperluan dan dia tidak tahu akan berapa lama tinggal disana dan diapun juga tidak ada niat untuk menetap disana, maka ia boleh terus meng-qoshor sampai pulang.

Berbeda tentunya kalau dia sudah tahu bahwa dia akan tinggal disana misalnya selama dua bulan atau selama setahun maka yang seperti ini hukumnya seperti hukum mukim kata para ulama, adapun kalau kita tidak tahu akan selesainya kapan makanya seperti ini hukumnya musafir.

Dari Jabir ia berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah tinggal di Tabuk 20 hari dan beliau terus meng-qoshor sholat selama 20 hari itu.” (HR Imam Ahmad)

Ibnu Qoyyim berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah berkata kepada umatnya, jangan meng-qoshor sholat apabila tinggal lebih dari sekian sekian.. akan tetapi kebetulan Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam tinggal di Tabuk 20 hari dan beliau terus meng-qoshor sholat disana.”

Dari Ibnu ‘Abbas bahwa, “Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah tinggal 19 hari dan beliau meng-qoshor dan kami apabila safar 19 hari kami meng-qoshor apabila lebih dari itu kami menyempurnakan” (ini pendapat Ibnu ‘Abbas).

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar pernah ke Adzarbaijan untuk berjihad di jalan Allah selama 6 bulan beliau meng-qoshor disana.

Disebutkan dalam kitab Ar-raudhotunnadiyyah jilid 1 hal 383, “dan pendapat kebanyakan para ulama bahwa seseorang terus meng-qoshor selama ia tidak ada niat untuk menetap”

Maka dari itu pendapat yang rojih/sh0hih tidak ada batasan selama seseorang mau pergi safar dimana ia tidak tahu akan berapa lama selesainya kebutuhan dia, maka pada waktu itu ia terus meng-qoshor diperbolehkan.
Misalnya seseorang mau pergi ke Eropa karena ada keperluan dan ia tidak tahu selesainya berapa hari, maka pada waktu itu ia terus meng-qoshor.

Adapun kalau ia mau pergi ke Jepang misalnya ia tahu ia akan tinggal disana misalnya selama setahun karena ditugaskan oleh kantornya maka seperti ini hukumnya hukum mukim, maka semenjak ia sampai disana ia tidak boleh meng-qoshor lagi.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Jembatan Shirat

Abu Sa’id Al Khudri rodliyallahu ‘anhu berkata:

بلغني أن الجسر أدقُّ من الشعر، وأحدُّ من السيف

“Sampai kepadaku bahwa jembatan (shirat) lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” [HR Muslim]

Demikian pula shirat di dunia..
Ia lebih halus dari rambut hingga membutuhkan ketajaman ilmu untuk dapat melihatnya..
Dan kebeningan hati dari hawa nafsu dan syahwat..

Ia lebih tajam dari pedang karena penuh ujian..
Diuji dengan perintah dan larangan..
Diuji dengan musibah dan cemoohan..
Bahkan orang yang memegang sunnah di zaman ini seperti memegang bara api..

Ya Allah selamatkan kami untuk melalui shirat di dunia dan shirat di atas neraka jahannam…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Pembahasan Lengkap – KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR

Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu”, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
=======

  1. Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah  #1
  2. Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah #2
  3. Hakikat Iman Menurut Murji’ah
  4. Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #1
  5. Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2
  6. Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #3
  7. Sebab Munculnya Pengkafiran Tanpa Haq Dalam Ummat Islam
  8. Pemakaian Kata Kufur Dalam Alqur’an dan Hadits
  9. Ungkapan Kufur Dalam Lafazh-Lafazh Syari’at
  10. Perbedaan Antara Kufur, Syirik, dan Nifaq
  11. Pembagian Kufur Berdasarkan Hukumnya
  12. Pembagian Kufur Berdasarkan Sebabnya
  13. Pembagian Kufur Berdasarkan Perbuatan Anggota Badan
  14. Pembagian Kufur Berdasarkan Asli Atau Bukannya
  15. Pembagian Kufur Berdasarkan Mutlak Atau Mu’ayyan
  16. Cabang-Cabang Kekufuran Dan Dalilnya
  17. Hukum Kufur Besar dan Pelakunya Di Dunia dan Akherat
  18. Hukum Kufur Kecil dan Pelakunya Di Dunia dan Akherat
  19. Keyakinan Khowarij Terhadap Pelaku Dosa Besar
  20. Keyakinan Mu’tazilah, Murji’ah Dan Ahlussunnah Wal Jama’ahTerhadap Pelaku Dosa Besar
  21. Meninggalkan Perkara Yang Disyari’atkan
  22. Melakukan Perbuatan Yang Terlarang
  23. Mengkafirkan Secara Individu #1
  24. Mengkafirkan Secara Individu #2
  25. Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 1 dan 2
  26. Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 3
  27. Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 4
  28. Contoh Dari Ulama Salaf Terdahulu Terkait Kehati-Hatian Dalam Mengkafirkan
  29. Siapa Yang Berhak Untuk Memvonis Kafir Atau Tidaknya..?

Bagi Yang Mendambakan Tinggal Di Kampung Islami

Enak ya, kalau bisa tinggal di kampung islami, desa sunnah, kampung ulama’ dst.

Demikian gumam atau mimpi sebagian orang..
benarkah demikian ?

Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya permasalahan yang serupa, kemudian beliau menjelaskan bahwa keutamaan tinggal di satu tempat tidaklah dinilai dari kampungnya atau negerinya.

Kelebihan tinggal di suatu tempat dinilai dari apa yang bisa Anda lakukan. Bila Anda tinggal di suatu negeri atau Perkampungan yang banyak pelaku maksiat nya, atau bahkan banyak Non-muslim nya, namun anda bisa banyak berbuat kebaikan di sana ingin memerintahkan yang Ma’ruf dan melarang yang Mungkar.

Sedangkan bila anda tinggal di negeri muslim maka Anda hanya menjadi pupuk bawang tidak banyak yang bisa Anda lakukan, walaupun anda lebih nyaman hati atau anda lebih tenang, maka menurut beliau dengan tetap tinggal di negeri yang lebih banyak maksiat namun anda juga lebih banyak bisa berbuat kebaikan lebih baik dan lebih utama daripada anda tinggal di negeri Islam yang hanya sebagai pupuk bawang.

Beda halnya bila anda tidak berguna di kampung yang heterogen bahkan anda terkontaminasi negatif maka “bertiarap” dengan berpindah agar selamat itu bisa menjadi solusi bagi ketidak berdayaan anda.

Makanya Fokuslah untuk berbuat baik di mana pun anda berada, dibanding sibuk memikirkan kampung ini atau itu, negeri ini atau negeri itu.. karena nilai anda ada pada karya Anda, Bukan pada rumah Anda atau alamat kantor Anda atau kampung Anda.

Beliau lalu berdalil dengan surat Al Hujurot ayat : 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”

Dengan demikian Anda tidak mudah tertipu dengan kampung Islam atau negri sunnah atau kampung taqwa atau desa kurma atau kampung unta dan nama nama serupa lainnya, yang telah terbukti jadi jargon perdagangan yang juga terbukti indah di dengar pahit di rasa dan fakta.

[silahkan baca Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 27/39-40]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Bagi Yang Ingin Punya Anak Menjadi Ustadz

MUTIARA SALAF : Kesusahan Hidup Adalah Rahmat

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

ومِن رحمته – عز و جل – أنْ نغّص عليهم الدنيا و كدّرها؛ لئلا يسكنوا إليها، ولا يطمئنوا إليها، ويرغبوا في النعيم المقيم في داره وفي جواره.
‏فساقهم إلى ذلك بسياط الإبتلاء و الامتحان.؛ فمنعهم ليعطيهم، وابتلاهم ليعافيهم، وأماتهم ليُحييهم.

“Diantara rahmat Allah adalah menjadikan dunia penuh ujian dan kesusahan.. agar mereka tidak condong kepada dunia dan tidak merasa tentram kepadanya.. dan agar mereka mengharapkan kenikmatan yang abadi di negeri (surga) di sisi-Nya..

Allah menggiring mereka kepada kenikmatan akherat dengan cambuk ujian dan cobaan.
Allah tidak memberi mereka (dunia) karena ingin memberi mereka (yang lebih baik dari dunia).

Allah memberi mereka ujian agar menyelamatkan mereka (dari adzab-Nya)..”

[Ighotsatulahafan 2/917]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Bertemanlah Dengan Orang Yang Melupakan Kebaikannya Kepadamu

Berkata Ghassaan ibn Al-Mufaddhol rohimahullah,

ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺎﻝ: ﺍﺻﺤﺐ ﻣﻦ ﻳﻨﺴﻰ ﻣﻌﺮﻭﻓﻪ ﻋﻨﺪﻙ

”Dahulu dikatakan: ‘Bertemanlah dengan orang yang melupakan kebaikannya kepadamu.”
Dikeluarkan oleh ibnu Abidunya

Teman yang selalu mengingat kebaikannya kepada kita..
Suatu ketika ia akan bersikap tak baik dan merasa telah berjasa..
Barangkali ia sulit memaafkan saat kita berbuat salah kepadanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Iman Pasti Diuji, Agar Terbukti Murni Bukan Imitasi

Anda mengaku beriman ? Sudahkah anda diuji sehingga terbukti iman anda murni bukan iman imitasi ?

Adapun janji Allah Ta’ala, maka pasti benar dan sudah terbukti, berbeda dengan iman anda, karena itu jangan bermimpi menguji kebenaran janji Allah, namun bersiaplah untuk diuji kebenaran iman anda.

Kisah berikut cukup unik untuk anda renungkan, bagaimana orang beriman menjalani ujian iman.

Sahabat Abu Said Al Khudri mengisahkan,
“Suatu hari datang seorang lelaki kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata,
“Wahai Rasulullah, sejatinya saudaraku saat ini sedang menderita diare”

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْقِهِ عَسَلًا»

“Minumi ia madu”

Segera lelaki itu pergi dan menjalankan petunjuk Nabi, yaitu meminumi saudaranya madu.

Tidak selang berapa lama, ia kembali lagi menemui Rosulullah dan berkata kepadanya, “aku telah meminumkan madu kepadanya, namun ternyata diarenya malah bertambah parah”

Mendengar laporan itu, beliau kembali memerintahkannya untuk terus meminuminya madu.

Segera lelaki itu pergi dan menjalankan perintah Rosulullah, namun lagi-lagi diare sauadaranya semakin bertambah parah. Sehingga ia kembali menemui Rosulullah dan mengabarkan hal ini kepada beliau.

Mendapat laporan perihal diare saudara lelaki itu yang semakin bertampah parah, lagi-lagi Rosulullah memerintahkannya untuk meminuminya madu.

Tanpa pikir panjang atau ragu sedikitpun, lelaki itu kembali mematuhi perintah Rosulullah.

Dan lagi-lagi diare saudaranya semakin bertambah parah, hingga akhirnya untuk yang ketiga kalinya ia menyampaikan kejadian ini kepada Nabi. Dan Nabi pun kembali memerintahkannya dengan pengobatan yang sama. Dan kembali lagi diare saudara lelaki itu juga belum kunjung sembuh.

Walau sudah mencoba pengobatan ala Rosulullah untuk ketiga kalinya, namun lelaki itu tidak putus asa atau bergeming dan ragu. Ia tetap dengan yakin meminta petunjuk dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan untuk keempat kali ini, Rosulullah bersabda,

صَدَقَ اللهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ»

“Allah Maha Benar, sedangkan perut saudaramu yang tidak benar/ mengalami gangguan”

Selanjutnya Rosulullah memerintahkan lelaki itu untuk meminumkan madu kepada saudaranya, dan SUBHANALLAH, setelah minum madu empat kali, barulah diare saudara lelaki itu sembuh total.” (Muslim)

Rosulullah menyatakan bahwa Allah Maha Benar, karena Allah telah menjelaskan bahwa pada madu terdapat kesembuhan, sebagaimana ditegaskan pada ayat 69 surat An Nahl.

Demikianlah contoh nyata bagaimana seorang mukmin melatih keimanan, walau gagal tiga kali, namun tetap saja teguh dan tegar menerapkan ajaran Rosulullah, hingga akhirnya berhasil mendapatkan bukti akan kebenaran ajaran beliau.

Bagaimana dengan anda sobat ?

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Menundukkan Pandangan Dari Keharaman

قال ابن القيم
ولهذا كان غض البصر عن المحارم يوجب ثلاث فوائد عظيمة الخطر جليلة القدر
1- حلاوة الإيمان ولذته ….
2- نور القلب وصحة فراسته …
3- قوة القلب وثباته وشجاعته …

[ إغاثة اللهفان 1 / 76 – وشرح كل فائدة باستيعاب ]

Ibnul Qoyyim berkata,

“Menundukan pandangan dari keharaman mendatangkan 3 faidah besar,
1. Manisnya iman
2. Cahaya hati dan firasat yang benar
3. Hati yang kuat dan kokoh..”

[Ighootsatul Lahfaan 1/76]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Jangan Tergesa Gesa Menyampaikan Ayat atau Hadits

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Thaha:114)

Imam Abu Ja’far Ath Thobari rohimahullah berkata,

ولا تعجل يا محمد بالقرآن، فتقرئه أصحابك، أو تقرأه عليهم، من قبل أن يوحى إليك بيان معانيه

“Janganlah wahai Muhammad kamu tergesa gesa membacakan alqur’an kepada sahabat sahabatmu sebelum diwahyukan kepadamu penjelasan makna maknanya.” (Tafsir Ath Thobari)
Dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan Qotadah.

Ayat ini saudaraku..
Menjadi cambuk untuk kita agar tidak tergesa gesa menyampaikan ayat alqur’an..
Sampai kita memahaminya dengan benar..
Memahami penafsirannya dari para ulama…
Demikian pula dalam menyampaikan hadits..
Sampai jelas kepada kita apakah ia shahih atau tidak..
Bagaimana penjelasan para ulama tentangnya…

Jangan sampai seperti kaum khowarij yang disifati oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam..
Membaca alqur’an dan membawakan sabda Rosul..
Namun melesat dari agama akibat mereka memahaminya dengan pemahaman sendiri yang dangkal..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى