“Apabila anak sudah mulai bisa berbicara, mereka hendaknya diajari mengucapkan, ‘LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMAD ROSULULLAH..’ Hendaknya yang pertama menancap di pendengaran mereka ialah mengenal dan mentauhidkan Allah..
meyakini bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, mengawasi mereka, mendengar semua ucapan mereka, dan bersama mereka di mana pun mereka berada..”
Perekat paling kuat antara suami isteri bukanlah rasa cinta, tapi AGAMA
Oleh karenanya, seringkali kita melihat cinta suami kepada isteri atau sebaliknya justeru semakin besar dan memuncak, ketika keduanya membangun rumah tangganya dengan pondasi agama.
Oleh karena itulah, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita untuk mementingkan faktor ini, yaitu dalam sabda beliau (yang artinya):
“Dapatkanlah isteri yang memiliki agama (yang baik); niscaya kamu akan beruntung..”
Bahkan Sahabat ‘Umar bin Khottob -rodhiallohu ‘anhu- saat menjadi khalifah pernah ditanya seorang perempuan:
“Wahai amirul mukminin, suamiku telah menyumpahku agar aku tidak berbohong, sehingga aku merasa bersalah jika berbohong, apakah aku masih boleh berbohong wahai amirul mukminin”
Maka sahabat ‘Umar pun menjawab:
“Ya, silahkan berbohong kepada kita (sebagai suami).. jika salah seorang dari kalian (para isteri) tidak suka kepada kami (para suami), maka jangan katakan (ketidak sukaan) itu kepadanya !
Karena, rumah tangga yang dibangun di atas rasa cinta itu sangat sedikit.
Namun manusia biasanya menjalin hubungan itu karena Islam, hubungan nasab, dan jiwa sosial..”
[Alma’rifah wat tarikh 1/392].
Dan hendaklah kita selalu ingat sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- (yang artinya):
“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (isteri), karena jika dia membenci salah satu perangainya; dia pasti masih suka perangai yang lainnya” [HR. Muslim: 1469].
Ditulis oleh, Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Dari pembahasan kitab FIQIH Ad Da’wah ‘inda Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah – Kaidah-Kaidah dan Batasan-Batasan Dalam Fiqih Berdakwah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah, yang ditulis oleh Syaikh ‘Abid bin ‘Abdillah Ats Tsubati.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – 06 – Tidak Ada Sesuatu Yang Wajib Dalam Syariat Kecuali Berdasarkan Syariat Atau Akad – bisa di baca di SINI
. =======
Kita lanjutkan.. faedah dari kitab qowaaid dan dhowaabit fiqih ad da’wah.. masuk ke..
⚉ KAIDAH KE-7 : APA-APA YANG HARAM PADAHAL MAMPU UNTUK MELAKUKAN YANG LAINNYA MAKA WAJIB DILAKUKAN YANG LAINNYA TERSEBUT DISERTAI KETIDAK MAMPUAN
Maksudnya, jika ada sesuatu yang haram dilakukan..
➡️ Contoh: Ada orang yang sholat dengan tayammum padahal air ada dan dia bisa menggunakan air. Maka sholat dengan tayammum dalam keadaan ini adalah haram.
Namun ketika tidak mampu untuk menggunakan air dan kita mampu untuk tayammum maka pada waktu itu kita wajib bertayammum.
Kaidah ini adalah merupakan kaidah yang menunjukan akan kemudahan Islam.
⚉ Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan empat (4) macam keadaan seseorang dilihat dari sisi mampu dan tidak mampu yang berhubungan dengan badannya.. demikian pula berhubungan dengan perkara yang diperintahkan..
1️⃣ Seorang mukallaf mampu melakukannya dengan badannya dan mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan tersebut, maka ia wajib melaksanakannya.
Seperti orang yang mampu badannya, sehat, kuat dan yang diperintahkan adalah sholat dengan berwudhu. Maka, wajib berwudhu untuk sholat.
2️⃣ Badannya tidak mampu dan juga tidak mampu melaksanakan yang diperintahkan.
Contoh: Orang yang sakit dan tidak ada air. Maka pada waktu itu ia wajib tayammum dan melakukan yang sesuai dengan kemampuannya.
3️⃣ Badannya tidak mampu tapi dia mampu melakukan yang diperintahkan tersebut.
Seperti orang yang tidak mampu dengan badannya untuk berhaji tapi ia punya kemampuan harta. Maka pada waktu itu dia wajib untuk menyuruh seseorang menghajikan dirinya dengan hartanya tersebut.
4️⃣ Mampu dengan badannya tapi tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan tersebut.
Maka wajib berpindah kepada badal (penggantinya) jika ada penggantinya.
Contoh: Sudah mencari air untuk berwudhu tapi tidak ada. Berarti ia tidak mampu untuk berwudhu dengan air. Maka, pada waktu itu dia wajib berpindah kepada tayammum.
Inilah empat (4) keadaan orang yang tidak mampu atau mampu berhubungan dengan perkara yang diperintahkan.
➡️ Dalil kaidah ini banyak, diantaranya :
⚉ Allah Subhanaahu wa Ta’ala menyebutkan tentang ayat tayammum (QS An-nisa : 43)
“Jika kalian tidak mendapatkan air untuk berwudhu maka tayammumlah..”
⚉ Demikian pula Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sholatlah dalam keadaan berdiri, bila tidak mampu maka duduklah, jika tidak mampu maka berbaringlah diatas rusuk..” (HR. Bukhari)
➡️ Contoh dalam praktek dakwah:
⚉ Boleh menyuruh seseorang jadi imam padahal dia kurang bagus bacaannya karena tidak ada yang kemampuannya lebih bagus ditempat tersebut. Walaupun jika dibandingkan dengan yang bagus tentu dia kurang. Maka boleh pada waktu itu karena keadaannya darurat.
⚉ Ketika tidak ada khilafah diatas minhaji nubuwah, maka boleh mengangkat pemimpin yang bukan dari Quraisy yang ternyata juga tidak memenuhi syarat-syarat kepemimpinan dalam Islam misalnya. Maka, pada waktu itu kita taati karena untuk menghindari mudhorot yang lebih besar.
Bakr bin ‘Abdillah al-Muzanii rohimahullah berkata,
“Wahai anak Adam.. jika anda ingin mengetahui kadar nikmat yang Allah telah limpahkan kepada anda maka silahkan pejamkan kedua mata anda (dan renungkan nikmat Allah berupa penglihatan)..”
“Aku tidak peduli masuk di waktu pagi dalam keadaan apa.. apakah dalam keadaan yang aku sukai atau keadaan yang aku tidak sukai. Karena aku tidak tahu apakah kebaikan itu dalam perkara yang aku sukai atau dalam perkara yang aku tidak sukai..”
“Sungguh orang yang senantiasa berdzikir ketika berada di jalan, di rumah, di saat mukim, di saat safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat..
Karena tempat-tempat tadi, rumah, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat..”
[ Al-Wabil Ash-Shoyyib – 197 ]
subhaanallah.. tidakkah kita ingin memiliki sebanyak mungkin saksi meringankan saat mempertanggung-jawabkan perbuatan kita kelak di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla..?!
“Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu..’ tetapi katakanlah ‘QODARULLAH WA MAA SYAA-A FA’ALA‘ (ini sudah takdir dari Allah dan apapun yang dikehendaki-Nya pasti terlarang..) karena sesungguhnya ungkapan kata ‘seandainya’ akan membukakan jalan bagi godaan syaithon..”
( HR. Muslim – 2664 )
jangan katakan ‘andaikan’ .. tapi katakanlah,
QODARULLAH wa maa syaa-a fa’al.
atau dalam riwayat lainnya :
QODDARALLAH wa maa syaa-a fa’al.
perbedaaannya hanya di kalimat pertamanya saja yang artinya serupa.
Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan.. pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya.. setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata, ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan..”
[ HR. Muslim ]
yuuk perbanyak do’a untuk diri sendiri, orangtua dan orang lain.. apalagi di saat-saat #psbb.. . dari hadits ini, ada dua golongan manusia yang di do’akan malaikat yaitu orang yang di do’akan dan juga orang yang mendo’akan.. keduanya sama-sama dido’akan malaikat.. walhamdulillah.. . Al-Qadhi ‘Iyadh rohimahullah berkata, . “Jika generasi Salaf hendak berdo’a untuk dirinya sendiri, mereka juga berdo’a untuk saudaranya sesama muslim dengan do’a tersebut, karena do’a tersebut adalah do’a yang mustajab, dan dia pun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaranya sesama muslim..” . [ Syarh an-Nawawi – XVII/49 ] . Sebarkan..! . Baarokallahu fiikum.. . #stayhome #staysafe #stayclean #stayapart
“Keberuntungan terbesar di dunia ini tatkala engkau menyibukkan dirimu sepanjang waktu dengan perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu di kehidupan akhirat..
bagaimana mungkin dikatakan berakal, seseorang yang menjual Surga dengan segala kenikmatannya dengan kesenangan sesaat..”