terkait waktu puasa ayyaamul biidh, semoga penjelasan berikut mencerahkan (termasuk fatwa Syaikh Bin Baz rohimahullah) :
https://muslimah.or.id/11104-seputar-puasa-ayyamul-bidh.html
terkait waktu puasa ayyaamul biidh, semoga penjelasan berikut mencerahkan (termasuk fatwa Syaikh Bin Baz rohimahullah) :
https://muslimah.or.id/11104-seputar-puasa-ayyamul-bidh.html
malam ini tanggal 10 Jumadal Uula sekitar 110 hari menjelang tibanya bulan Romadhon 1444 hijriyah..
bagi yang masih ada hutang puasa Romadhon 1443, silahkan mengatur jadwal pelunasan hutang puasa tsb..
nb : angka 110 hanya estimasi, penentuan tanggal 1 Romadhon 1444 hijriyah akan diputuskan oleh pemerintah setelah sidang isbath, semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Romadhon, aamiiin.
Berikut ini adalah kompilasi artikel ‘Mutiara Salaf’ yang pernah diposting, dan kompilasi ini akan terus di update, insyaa Allah.. semoga bermanfaat…
GENERASI SAHABAT
Abu ad-Darda’ rodhiyallahu ‘anhu
‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu
Amru bin Al ‘Ash rodhiyallahu ‘anhu
Ibnu ‘Abbas rodhiallahu ‘anhuma
Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu
Imron bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu
Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu
Tholhah bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf rodhiyallahu ‘anhum
‘Umar bin Khoththob rodhiyallahu ‘anhu
‘Uthman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu
==============
GENERASI SETELAH SAHABAT (aphabetical order)
Abu Mu’awiyah Al Aswad rohimahullah
Abu Qilabah rohimahullah
Abul Atahiyah rohimahullah
Adh Dhohak bin Muzahim rohimahullah
Adz Dzahabi rohimahullah
Ahmad bin Hambal rohimahullah
Al Baghowi rohimahulloh
Al Qurthubi rohimahullah
Ali bin Hasan As Sulami rohimahullah
Amr bin Syurahbil Asy-Sya’bi
Amr bin Qais rohimahullah
Asy-Syathiby rohimahullah
Asy-Syaukani rohimahullah
‘Atho Al Khurasani rohimahullah
Auza’i rohimahullah
Bakr bin ‘Abdillah al-Muzanii rohimahullah
Bilal ibn Sa’ad rohimahullah
Bisyr bin Harits al-Haafy rohimahullah
Dzun Nuun al-Misri rohimahullah
Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah
Hamdan bin Ahmad rohimahullah
Hasan al Bashri rohimahullah
Hatim al-Ashom rohimahullah
Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah
Ibnu ‘Arobiy rohimahullah
Ibnu As-Samak rohimahullah
Ibnu ‘Aqil Al Hanbali rohimahullah
Ibnu ‘Aun rohimahullah
Ibnu Baththol rohimahullah
Ibnu Hajar al-Asqolany rohimahullah
Ibnu Hajar al-Haitami rohimahullah
Ibnu Hazm rohimahullah
Ibnu Hibban (Abu Hatim) rohimahullah
Ibnu Jarir ath-Thobari rohimahullah
Ibnu Katsir rohimahullah
Ibnu Muflih Al-Hambali rohimahullah
Ibnu Qudamah al-Maqdisy rohimahullah
Ibnu Rojab rohimahullah
Ibnu Syaqiq rohimahullah
Ibnu Syihab Az Zuhri rohimahullah
Ibnu Taimiyah rohimahullah
Ibnul Jauzi rohimahullah
Ibnul (Abdullah bin) Mubarok rohimahullah
Ibnul Qoyyim rohimahullah
Ibrahim at-Taimi rohimahullah
Imam An Nawawi rohimahullah
Imam asy-Syafi’i rohimahullah
Ja’far bin Muhammad rohimahullah
Jubair bin Nufair rohimahullah
Kholid bin Ma’dan rohimahullah
Kholid bin Yazid rohimahullah
Malik bin Anas rohimahullah
Malik bin Dinar rohimahullah
Muhammad bin Ka’ab rohimahullah
Muhammad bin Nadhr Al Haritsi rohimahullah
Muhammad bin Sirin rohimahullah
Muhammad Attamimi rohimahullah
Muthorrif bin ‘Abdillah rohimahullah
Qotaadah bin Di’amah As Sadusi rohimahullah
Sahl bin Abdillah at-Tustury rohimahullah
Sa’id ibn Jubair rohimahullah
Sa’id bin Musayyab rohimahullah
Salamah bin Dinar rohimahullah
Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar rohimahullah
Sufyan bin Dinar rohimahullah
Sufyan ats-Tsaury rohimahullah
Sufyan bin Uyainah rohimahullah
Sulaiman Attaimiy rohimahullah
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah
Syaikh Abdurrohman As Sa’di rohimahullah
Syaikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafizhohullah
Syaikh al-Albani rohimahullah
Syaikh Ali Musthofa Thonthowy rohimahullah
Syaikh Bakr Bin Abdillah Abu Zaid rohimahullah
Syaikh Muhammad Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah
Syumaith bin ‘Ajlan rohimahullah
‘Urwah ibnu az-Zubair rohimahullah
Wahb bin Munabbih rohimahullah
Wakie’ bin Al Jarraah rohimahullah
Walid bin Qois rohimahullah
Yahya bin Mu’adz rohimahullah
Yunus bin Ubaid rohimahulah
Zaid bin Aslam rohimahullah
Lainnya
malam kamis ini tanggal 29 Robii’ul Aakhir, sekitar 120 hari menjelang tibanya bulan Romadhon 1444 hijriyah..
bagi yang masih ada hutang puasa Romadhon 1443, silahkan mengatur jadwal pelunasan hutang puasa tsb..
nb : angka 120 hanya estimasi, penentuan tanggal 1 Romadhon 1444 hijriyah akan diputuskan oleh pemerintah setelah sidang isbath, semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Romadhon, aamiiin.
● Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhumaa, beliau mengatakan,
كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا
“Kami para sahabat ketika melewati jalanan yang naik (menanjak), kami bertakbir. Dan ketika melewati jalanan yang turun, kami bertasbih..”
[ HR. Bukhari 2993 ]
● Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, beliau menceritakan,
وَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا
“Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam dan pasukannya apabila melewati jalanan perbukitan yang naik, mereka bertakbir, dan apabila mereka turun, mereka bertasbih..”
[ HR. Abu Dawud 2601 ]
dishohihkan oleh syaikh al-Albani
nb : saat naik/turun dengan eskalator, naik/turun tangga, lift atau saat berkendaraan melewati jalan tanjakan/turunan, fly over, terowongan, dan saat bepergian dengan pesawat terbang (take-off dan landing).. dan kegiatan lain sejenisnya..
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia..”
[ HR. Abu Daud no. 4811 ]
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih
Beberapa faedah dari hadits di atas:
1. Siapa yang biasa tidak tahu terima kasih pada manusia yang telah berbuat baik padanya, maka ia juga amat sulit bersyukur pada Allah.
2. Allah tidaklah menerima syukur hamba sampai ia berbuat ihsan (baik) dengan berterima kasih pada orang yang telah berbuat baik padanya.
3. Perintah untuk pandai bersyukur.
4. Pemberi nikmat hakiki adalah Allah dan manusia yang berbuat baik adalah sebagai perantara dalam sampainya kebaikan.
Maka, jadilah manusia yang pandai berterima kasih, lebih-lebih kepada orang tua, guru dan setiap yang telah memberikan berbagai kebaikan pada kita.
ref : https://rumaysho.com/3406-tidak-tahu-berterima-kasih.html
● Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda,
“Barangsiapa diberi suatu kebaikan, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut, ‘jazaakallahu khoyron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya..”
[ HR. at-Tirmidzi ]
Shohiih at-Targhib wat-Tarhib 969
● ‘Umar bin Al Khoththob rodhiyallahu ‘anhu mengatakan,
“Seandainya salah seorang dari kalian mengetahui apa yang dia dapatkan ketika mengucapkan kepada saudaranya ‘jazaakallahu khoyron’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),
niscaya sebagian kalian akan banyak mengucapkannya kepada yang lain..”
[ Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 27050 ]
Kalimat terima kasih serta do’anya dalam syari’at itu berbeda tergantung gender dan jumlah, sbb :
● jazaakallahu khoyron – kepada satu pria
● jazaakillahu khoyron – kepada satu wanita
● jazaakumallahu khoyron – kepada 2 laki atau 2 wanita
● jazaakumullohu khoyron – kepada lebih dari 2 pria
● jazaakunnallahu khoyron – kepada lebih dari 2 wanita
contoh:
– saat ayah/suami memberikan nasehat/uang belanja, atau saat anak laki mengerjakan perintah kita, maka ucapkanlah ‘jazaakallahu khoyron..’
– saat ibu/istri/anak perempuan kita menyiapkan sarapan, membersihkan rumah dll, maka ucapkanlah ‘jazaakillahu khoyron..’
namun janganlah dipotong jadi “jazaakallahu” saja karena:
1. kalimat tsb belum lengkap dan belum sesuai yang diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana yang terdapat dalam hadits yaitu mengucapkan “jazaakallahu khoyron” yang artinya “semoga Allah membalasmu dengan kebaikan/khoyron”
2. kalimat “jazaakallah” saja itu artinya “semoga Allah membalasmu..” tapi membalasmu itu dengan apa..? keburukan atau kebaikan.. tentunya kita ingin mendo’akan kebaikan, maka ucapkanlah sesuai yang diajarkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, yaitu “jazaakallahu khoyron..”
Lalu bagaimana kalimatnya bila orang yang berbuat baik sama kita TIDAK berada dihadapan kiita..? kita ucapkan (do’akan) sbb:
● jazaahullahu khoyron – kepada satu pria
● jazaahallahu khoyron – kepada satu wanita
● jazaahumallahu khoyron – kepada 2 laki atau 2 wanita
● jazaahumullohu khoyron – kepada lebih dari 2 pria
● jazaahunnallahu khoyron – kepada lebih dari 2 wanita
Wallaahu ta’ala a’lam

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
“Sesungguhnya seorang penasehat tidak akan memusuhimu jika engkau tidak menerima nasehatnya. Dia akan mengatakan, ‘Sungguh telah tetap pahalaku di sisi Allah, engkau terima atau tidak terima nasehatku..’ Dia akan mendo’akan kebaikan untukmu tanpa sepengetahuanmu, tidak akan menyebutkan aib-aibmu dan tidak menyebarkannya kepada orang lain..”
[ Ar-Ruuh 1 – 258 ]
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
salah satu adab berdo’a adalah memulainya dengan memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung, dan ini (lihat poster) adalah salah satu lafazh pujian kepada Allah, bahkan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwa seseorang yang memuji Allah dengan lafazh pujian di atas (lalu membaca sholawat) sebelum berdo’a, maka do’anya akan dikabulkan.. subhaanallah..
ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA BI-ANNII
ASYHADU ANNAKA ANTALLAAHU
LAA ILAAHA ILLAA ANTA
AL AHADUSH SHOMAD
ALLADZII LAM YALID WALAM YUULAD
WALAM YAKUL-LAHU KUFUWAN AHAD
selain lafazh diatas, kita juga bisa menggunakan nama-nama Allah lainnya sebelum berdo’a, seperti :
– yaa Hayyu yaa Qoyyuum
– yaa Rohmaan
– dst..
dan tentunya setelah pujian kepada Allah, kita baca sholawat, lalu baru setelah itu kita berdo’a..
wallahu ta’ala a’lam..